Kelar olahraga pagi, refleks pertama seperti biasa: buka timeline. Di sela keringat yang belum sepenuhnya kering, satu info gigs nyempil karena kepincut ada Sakarin dan SKHU Gila. Pas waktunya, pas juga rasa penasarannya. Malam itu saya ngajak Hagia buat nonton Oom Moki (Sakarin), sekalian mengintip band-band yang selama ini cuma lewat di telinga tapi belum pernah saya saksikan langsung: SKHU Gila (Haris, Toyib dkk) dan Japa Mantra (Bable, Lukman dkk).
Semesta cukup baik malam itu. Selain lineup yg saya incer, saya dapat bonus musisi yang energinya tak main-main: Bleedrz (yang belakangan baru saya tahu ini proyeknya Oom Robo) dan band baru Mas Hafid yang juga baru saya kenal, Cherish. Kombinasi lintas generasi dan lintas fase yang khas Jogja: selalu ada wajah lama dengan baju baru, dan nama baru dengan semangat yang segar.
Bleedrz tampil di urutan kelima, setelah Sakarin (kalo kalian pernah nonton Project Babi No. 9, nah ini terusan projeknya). Baru dua lagu dimainkan, rasa kantuk mulai menyerang. Bukan karena mereka lemah, justru sebaliknya, energi mereka padat dan cheerful, tapi mungkin tubuh memang punya batas ya. Hagia pun merasakan hal yang sama. Setelah segelas es coklat habis diseruput, kami memutuskan pulang duluan.
Keputusan yang jujur saja terasa nanggung. Band Racaw masih menunggu giliran sebagai penutup Crazy Night di Asmara Art & Coffee Shop (Ascos), dan siapa pun yang pernah menonton mereka pasti tahu: itu bakal rame. Tapi gigs bukan cuma soal menuntaskan lineup. Kadang ia soal timing, kondisi tubuh, dan keputusan kecil yang sangat manusiawi alias ngantuk. wkwkkw...
Ascos sendiri, malam itu dengan reguleran musik yang sudah akrab di telinga, tempat ini selalu terasa pas untuk datang, berhenti sejenak, dan bertemu teman-teman. Jogja, seperti biasa, tak pernah gagal menghadirkan ruang presentasi yang intim. Kota ini punya kemampuan unik: membuat musik terasa dekat dan personal.
Di Yogyakarta, “teman menonton teman” bukan sekadar frasa romantik. Ia adalah energi sekaligus ekosistem. Di sela jeda antar penampil, obrolan ringan hampir selalu terjadi: komentar spontan, evaluasi jujur, candaan, sampai ide-ide liar yang kadang menjelma proyek baru atau acara lanjutan. Tidak jarang, sesuatu yang besar justru berangkat dari obrolan kecil di sudut waktu yang sempit di jeda antar penampil. Kalau tidak percaya, datang saja ke gigs dengan “gelas kosong” dan membaurlah. Jogja akan mengajarkan caranya. Seger!!!
Iklim musik independen di Yogyakarta tumbuh bukan hanya karena banyaknya band atau venue, tapi karena kemungkinan-kemungkinan yang sengaja atau tidak terciptakan. Ada kolektif, ruang alternatif, rumah-rumah kecil yang disulap jadi tempat dengar, kampus, komunitas seni, dan penonton yang inisiator juga. Semua saling menghidupi. Tidak selalu rapi, tidak selalu mapan, tapi jujur. Dan secara tidak tertulis, semua paham satu hal: ya, ini sedang berproses.
Saya datang ke gigs seperti biasa: menonton teman dan mencari energi lalu merekamnya. Mengarsipkannya. Saya terbiasa merekam teman, baik yang sudah lama dikenal maupun yang baru saya temui di panggung atau acara dalam sebuah proyek bernama #LOVSOT sejak 2011. Kamera bagi saya bukan sekadar alat dokumentasi, tapi cara untuk mendaur hidup.
Memasuki 2026, saya memulai program baru: #RawDocRaw (semacam jurnal video). Upaya merekam peristiwa apa adanya, tanpa banyak polesan, sebagai bagian dari proses saya menjalani hidup ini. Bertemu, merekam, lalu membagikannya kembali. Gigs-gigs kecil, ruang-ruang baru yang sempit, keringat, salah nada, tawa, bahkan pulang lebih awal karena ngantuk. Semuanya sah menjadi arsip.
Karena di kota seperti Yogyakarta, musik independen bukan hanya soal suara di atas panggung, tapi tentang bagaimana kita hadir, saling menyaksikan, dan meninggalkan jejak, sekecil apa pun, dalam ingatan bersama.
Terima kasih Ascos atas Crazy Night-nya. 🙌
Beberapa link yang perlu kamu telusuri (dan terekam penampilannya):
- https://www.instagram.com/skhugila/ - Gumam
- https://www.instagram.com/japamantra.mp3/ - Wahn
- https://www.instagram.com/just_.cherish/ - (lupa gak nyatet judul lagunya), maafkan aku mas Hafid
- https://dugtrax.bandcamp.com/album/sakarin - Barisan Cecunguk & Supermuff
- https://www.instagram.com/bleeedrz/ - Sirna
- https://www.instagram.com/racaw_klab/
- Tentang acara: https://www.instagram.com/p/DT-o7mtEkrf/
- Lokasi ASCOS: https://maps.app.goo.gl/8Pw3JnUZxEbN6rqb7

No comments:
Post a Comment