GOING NEXT TO NOWHERE
A living journal of stories, culture, and creative work.
Satu peristiwa membawa kita ke peristiwa lainnya
Yang paling saya ingat, Hagia juga ikut main di film itu sebagai Eva kecil, salah satu tokoh utama. Kalau penasaran, coba perhatikan adegan anak kecil yang sedang main tanah. Itu Hagia.
Teaser Maaf Senin Tutup:
Setahun kemudian, 2019, saya kembali lagi ke Kedai Rukun. Kali ini bukan untuk syuting, tapi untuk menyemarakan Pang Ping Pong Cup. Kami sampai meng-hire Pak Toyo dari Ayam Chicken Geprek KPY untuk ikut bertanding. Dan hasilnya? Juara pertama! Haaa...
Arsip Pang Ping Pong Cup:
Jadi ketika beberapa tahun kemudian saya kembali ke tempat ini, memorinya langsung tumpah semua.
Kali ini ceritanya dimulai dari ajakan Mas Aryo. Kami mau berangkat melayat Pak Nasirun, seniman yang kediamannya tidak terlalu jauh dari Kedai Rukun. Sebelum berangkat, Mas Aryo tiba-tiba nyeletuk,
"Doyan es tape?"
"Doyan, dong!"
"Yaudah, pulangnya kita ke Kedai Rukun."
Deal.
Berangkatlah kami.
Saya pertama kali mengenal Pak Nasirun ketika bekerja di Indonesian Visual Art Archive (IVAA). Waktu itu ada kunjungan ke rumahnya. Rumahnya besar, tapi ketawa Pak Nasirun jauh lebih besar. Hahaha. Sekali beliau ketawa, rasanya satu ruangan ikut terbawa.
Setelah itu saya beberapa kali bertemu lagi di berbagai pameran. Pernah juga melihat beliau ketika saya bekerja untuk Mbak Yenny Wahid di rumahnya. Saya memang tidak bisa bilang mengenal Pak Nasirun secara dekat. Tapi dari cerita para pelayat hari itu, saya mendengar banyak hal tentang bagaimana beliau menjalani kesenian dan kebudayaan.
Salah satu cerita yang cukup menempel di kepala saya: ketika sebuah karyanya laku, sebagian uangnya digunakan untuk membeli karya seniman senior atau orang yang ia anggap sebagai guru. Buat saya, itu keren.
Ada semacam sikap untuk mengembalikan sesuatu kepada tempat kita belajar. Ketika sudah mendapatkan sesuatu dari dunia seni, sebagian dari apa yang kita dapatkan dikembalikan lagi kepada orang-orang yang lebih dulu membuka jalan.
Mungkin begitu pula sebuah kebudayaan bisa terus hidup: bukan hanya karena karya disimpan, tetapi karena orang-orang di dalamnya saling mengingat, saling menghidupi, dan meneruskan sesuatu kepada generasi setelahnya.
Saya sendiri mungkin belum banyak belajar dari Pak Nasirun. Yang paling saya ingat justru ketawanya. Dan ngapaknya. Kebetulan akhir-akhir ini saya juga sedang sering berhubungan dengan teman-teman di Banyumas dan sekitarnya, jadi mendengar bahasa dan cara bicaranya terasa cukup familiar.
Tapi mungkin saya memang masih harus belajar dari apa yang sudah beliau tinggalkan: karya-karyanya, cara hidupnya, cerita-cerita orang tentang dirinya, dan bagaimana ia menempatkan seni sebagai bagian dari laku kebudayaannya. Terima kasih, Pak. Maaf juga tadi saya sempat ketiduran sebentar di teras rumah yang adem banget itu.
Setelah selesai melayat, kami pulang. Dan seperti janji Mas Aryo tadi... Kedai Rukun.
Es tapenya memang tidak ada lawan. Tape ijonya banyak, susu putihnya juga banyak. Begitu sekali diseruput, rasanya susah berhenti. Masalahnya, tape dan susunya bikin bagian dalam leher terasa lengket. Akhirnya auto pengen cepat-cepat dihabisin supaya tenggorokan kembali lega. Coba aja sendiri.
Karena sedang di Kedai Rukun kami ingin bertemu Mas Bigot, pemilik Kedai Rukun, tapi sepertinya beliau sedang tidak ada di tempat. Warkop barunya juga kebetulan belum buka. Ya sudah. Belum rezeki ketemu. Tapi ada kejutan kecil. Ibu dan bapak yang menjaga kedai ternyata masih ingat ketika saya dulu syuting di sini pada 2018.
Kadang yang membuat sebuah tempat terasa seperti rumah bukan bangunannya. Tapi orang-orang yang masih mengingat kita setelah bertahun-tahun pergi. Sebelum berangkat, ibu itu berpesan,
"Semoga semua sehat, lancar rezeki, dan bisa ke sini lagi."
"Salam buat Mas Bigot, ya, Pak!"
Pungkas saya sebelum meninggalkan kasir.
Terima kasih Mas Aryo yang sudah boncengin saya, ngajak melayat, dan kemudian nraktir jajan di Kedai Rukun. Sabtu yang indah. Tadi kami berangkat untuk melayat. Pulangnya makan es tape. Tapi di perjalanan, ada banyak sekali ingatan yang ikut pulang.
Datang untuk jajan, pulang bawa ingatan.
Anomali yang Empatik dan Partisipatif*
Akhirnya ngobrol kepanjangan ama Pak Gram, ketemu juga.
Kemarin petang, gue akhirnya sempat ngobrol langsung dengan Pak Gram (Gilang Ramadhan) di JNM Bloc. Selama ini kami lebih sering berpapasan lewat pekerjaan, saling berbagi foto, atau bertemu di acara. Baru kali ini benar-benar duduk ngobrol. Beliau adalah orang yang bikin gue stop pas baca WA di reply: "Profesi hanya cara, peran adalah kesempatan."
Kalimat itu sederhana, tapi semakin dipikir semakin panjang umurnya, ini baru ajayp!!!. Kita sering terlalu suntuk mendefinisikan diri lewat profesi/gawean: desainer, fotografer, dosen, marketer, filmmaker, etc. Padahal yang jauh lebih penting adalah peran apa yang sedang kita jalankan lewat profesi itu.
Di tengah obrolan, Pak Gram menyebut satu istilah yang baru pertama kali gue dengar: bodystorming. Kalau kita akrab dengan brainstorming (mengumpulkan ide lewat diskusi, coretan, atau curah pendapat) maka bodystorming mengajak kita melangkah lebih jauh: keluar dari meja, hadir langsung di lapangan, mengalami persoalannya dengan tubuh kita sendiri. Kalo kata mas Aji Santoso, yg pernah gue sablon: 'sadar penuh hadir utuh.'
Bukan sekadar membayangkan pengalaman pengguna, tetapi benar-benar menjadi bagian dari pengalaman itu. Marketing amat ini ya ternyata...
Ternyata, setelah gue googling, istilah ini memang dikenal dalam dunia desain, terutama design thinking dan human centered design. Banyak praktisi menggunakannya untuk menggambarkan proses menguji ide melalui pengalaman langsung, observasi, simulasi, atau keterlibatan di situasi nyata, semacam test drive. Sederhananya, kalau brainstorming bertanya, "Bagaimana kalau?", maka bodystorming bertanya, "Bagaimana rasanya?"
Mendengar penjelasan itu, gue langsung paham kenapa Pak Gram sering mengajak mahasiswanya keluar kelas. Kadang serombongan juga. Mereka diajak datang ke pameran, festival, studio, bertemu pelaku industri, ngobrol dengan pemilik brand, dan mengenalkan orang-orang yang membentuk ekosistem di balik profesi kreatif. Tujuannya bukan sekadar menambah relasi, tetapi memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mengalami langsung dunia yang sebentar lagi akan mereka masuki. Contoh ini udah gue rasain sendiri, lewat hubungan baik sampai saat ini dengan Dismas dan Tyo. Buat gue, pendekatan ini terasa sangat penting.
Industri kreatif berubah terlalu cepat. Sering kali kampus kesulitan mengejar kecepatannya hanya lewat kurikulum. Tapi ketika mahasiswa dipertemukan dengan ekosistemnya secara langsung, mereka belajar sesuatu yang tidak selalu ada di modul: cara berpikir, cara bekerja, cara berkomunikasi, sampai cara menghadapi ketidakpastian. Kerasa banget waktu gue dapat kesempatan ngajar di Komunikasi UMY & UB, hamdallahnya udah mraktekin bodystorming juga ternyata. Hee...
Lucunya, setelah obrolan itu gue baru sadar bahwa beberapa perjalanan yang gue lakukan, dari Bioscil (nganter film pendek anak ke anak-anak) sampe Tur Dalam Negeri Pehagengsi dan yg terakhir ke Lampung & Banyumas (Cilacap & Purwokerto) kemarin buat bikin-bikin talkshow marketing-marketingan, walking tour jaman sekarang, hunting foto kaya jaman kuliah, sampe icip-icip kuliner setempat alih-alih mengunjungi brand lokal, mendengar ceritanya langsung dari para pelakunya ternyata juga merupakan bentuk bodystorming. Bedanya, selama ini gue melakukannya tanpa tahu bahwa pendekatan itu punya nama. Yah, namanya juga sebisanya dengan cara seperti biasanya, sekenanya aja, tp sadar njalaninnya heee.... Buat gue itu cara belajar yang paling membekas.
Karena pengetahuan yang hanya berhenti di kepala mudah terlupakan karena godaan algoritma. Tapi pengetahuan yang dialami tubuh akan berubah menjadi pengalaman. Dan pengalaman hampir selalu bertahan lebih lama daripada teori. Tinggal nge-breakdown jadi metode-nya aja nih yg kadang masih sulit buat gue.
Terima kasih, Pak Gram. Saya belajar banyak dari praktikmu ke mahasiswa. Bukan hanya karena mengenalkan istilah baru, tetapi karena mengingatkan bahwa pendidikan terbaik bukan selalu tentang menambah isi kepala, melainkan memperluas pengalaman hidup mahasiswanya. Kalo ada kesempatan pengen jadi mahasiswa lagi gue.
![]() |
| Trunk Maker Land Purwokerto, 7 Maret 2026 |
*Judul blog & vlog ini saya nukil dari potongan-potongan chat Pak Gram dipercakapan WA kami kmaren.
Lampung: Menyeberang Pulau, Menjala Api*
Ada satu hal yang mungkin terdengar lucu. Tenan, iki! Ini adalah pertama kalinya saya naik kapal laut. Benar-benar pertama. Banyak teman tidak percaya. Sampai akhirnya mereka percaya juga. Seumur-umur saya belum pernah naik kapal sebesar itu. Kapal yang bahkan bisa "menelan" bus beserta seluruh penumpangnya. Kata istri saya, perjalanan laut mungkin bikin mual. Memang, tapi sedikit. Tapi rasa mual itu kalah jauh oleh rasa takjub. Rasa takjub ketika naik perlahan melalui tangga kapal. Mendengar klakson panjang yang selama ini hanya saya dengar di film. Mencium bau besi, cat kapal, dan angin laut. Lalu melihat ombak memecah di sisi lambung kapal saat daratan mulai menjauh. Pelan-pelan. Kami benar-benar meninggalkan Pulau Jawa. Alhamdulillah. Akhirnya ngerasain naik kapal. Haa…
Setelah acara mas Aryo selesai, waktunya menyambangi (menjelajah) teman-teman di Lampung. Jauh-jauh hari saya sudah menghubungi Mas Wisnu (ITERA Sumatera/Tanah Lado Fest), lalu bersambung dengan Mas Dwi (ICCN Lampung/Studio Djajan Metro), dan beberapa teman lain yang sebelumnya hanya saling mengenal lewat internet. Alasan saya sederhana. Silaturahmi. Sekalian pamer juga kalau akhirnya saya benar-benar berhasil menyeberang ke pulau mereka dan merasakan naik kapal laut untuk pertama kalinya.
Perjalanan saya dimulai ketika kolektif Party Yo Party menjemput. Kami berangkat dari daerah Sekampung Udik dengan 2 karung oleh-oleh hasil bumi dari saudaranya mas Aryo, kami menuju Bandar Lampung untuk mengantar Mas Desta (Rukii Naraya) kembali ke Jawa. Sebelum berpisah kami sempat menikmati semangkuk soto Pak Dhe, lalu melanjutkan perjalanan ke Kota Metro. Di sanalah percakapan yang panjang banget dimulai. Seperti biasa, saya datang membawa beberapa film, merchandise Pehagengsi, dan cerita-cerita dari ekosistem Rekam Skena yang saya ampu di Cherrypop Fest musik di Jawa. Sebagai gantinya, saya pulang membawa cerita mereka. Kami berbicara tentang komunitas. Tentang merchandise. Tentang arsip. Tentang sponsor. Tentang bagaimana memperpanjang umur skena yang kami cintai. Obrolan itu berlangsung di bekas kawasan Pusat Perbelanjaan Shopping Centre Metro Lampung, ruang yang dulu pernah ramai, kini menyisakan jejak-jejak kejayaannya dan sedang diupayakan lagi oleh anak-anak muda dengan warung ala skena-nya. Saat bakmi habis, obrolan pindah ke emperan, ditemani nasi goreng pedas yang rasanya seperti energi teman-teman Lampung sendiri: sederhana, tapi menghangatkan.
Malam berlanjut di Studio Djajan Metro (SDM), warung milik Mas Dwi dan keluarganya. Tempat kecil itu berubah menjadi ruang berkumpul. Anak-anak SDM Subculture yang tadi siang hadir kembali berdatangan. Kami menghabiskan malam dengan sesuatu yang sederhana tapi mahal harganya: berbagi cerita dengan sangat emosional. Cerita tentang musik. Tentang hidup. Tentang kenapa kami masih percaya bahwa kebudayaan layak diperjuangkan. Obrolan baru benar-benar berhenti ketika adzan Subuh terdengar. Bukan karena kami kehabisan topik. Tapi karena waktu memaksa kami pulang.
Keesokan harinya saya mengunjungi Pagas Records. Sebuah record store mungil yang menjual rilisan fisik, kaset, CD, piringan hitam, hingga merchandise musisi-musisi Lampung. Di tengah era streaming, tempat seperti ini terasa penting. Ia bukan sekadar toko. Ia adalah ruang temu. Ruang arsip. Ruang percakapan. Saya pulang membawa dua kaus dan satu CD rilisan lokal. Oleh-oleh terbaik selalu berupa cerita yang bisa diputar ulang.
Tujuan terakhir tentu saja Tanah Lado Fest. Festival yang mempertemukan saya dengan Lampung untuk pertama kalinya meski saat itu saya belum pernah menginjakkan kaki di sini. Festival ini lahir dari lingkungan kampus Institut Teknologi Sumatera, sebuah kampus yang relatif muda, tetapi berhasil melahirkan ruang temu antara seni, film, musik, dan mahasiswa. Bersama Mas Wisnu, kami berbincang tentang bagaimana kampus bisa menjadi laboratorium kebudayaan, tempat anak-anak muda tidak hanya belajar teori, tetapi juga membangun ekosistemnya sendiri. Percakapan itu sebenarnya belum selesai. Namun telepon dari agen bus menandai bahwa saya harus kembali ke Jawa.
Perpisahan selalu menjadi bagian paling sulit dari perjalanan. Teman-teman Lampung mengantar saya sampai ke agen bus. Mereka bergotong royong membawakan oleh-oleh. Melambaikan tangan ketika bus mulai bergerak. Saya hanya bisa membalas dari balik kaca. Kamera Handycam saya terus merekam sampai mereka benar-benar hilang dari pandangan.
Dua hari di Lampung meninggalkan satu pertanyaan yang terus berputar di kepala saya. Mengapa kota-kota di daerah sering memiliki semangat yang begitu besar, tetapi akses yang begitu kecil?
Saya melihat anak-anak muda yang rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan uangnya sendiri untuk menjaga ruang hidup kebudayaan. Saya melihat kolektif yang bergerak tanpa banyak sorotan. Saya melihat festival, record store, warung, hingga ruang nongkrong berubah menjadi simpul-simpul kebudayaan. Dan yang mereka butuhkan ternyata bukan sekadar lebih banyak konten.
Hari ini kita hidup di tengah algoritma yang hampir selalu membawa perhatian kita ke pusat-pusat yang sudah besar. Kita disuguhi apa yang sedang ramai, apa yang sedang viral, dan apa yang paling banyak ditonton. Sementara cerita-cerita dari daerah, praktik-praktik kecil yang justru membangun ekosistem, sering kali tidak pernah sampai ke layar kita.
Akibatnya, kita merasa tahu banyak hal, padahal belum tentu memahami apa yang benar-benar dibutuhkan oleh lingkungan kita sendiri.
Dari obrolan dua hari bersama teman-teman di Lampung, saya justru melihat kebutuhan yang lain: pertemuan fisik. Duduk melingkar. Berdiskusi. Bertanya. Mendengarkan pengalaman orang yang lebih dulu berjalan. Bukan untuk memberi jawaban, tetapi untuk membantu membaca kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan yang dimiliki setiap daerah.
Karena ekosistem budaya tidak dibangun oleh algoritma. Ia dibangun oleh kepercayaan. Dan kepercayaan lahir dari perjumpaan.
Mungkin inilah pekerjaan rumah kita bersama. Bukan hanya membuat lebih banyak konten, tetapi memperbanyak ruang temu. Menghubungkan daerah dengan daerah, mempertemukan pelaku dengan pelaku, menghadirkan orang-orang yang bisa saling belajar tanpa merasa paling tahu.
Sebab yang dibutuhkan kebudayaan hari ini bukan sekadar lebih banyak penonton. Melainkan lebih banyak orang yang benar-benar hadir.
Suryodiningratan, 11 Juli 2026
RUWAT RUWET SHOW
RUWAT RUWET (A Mystical Music Dramatic Reading Performance)
Ada kisah yang tidak cukup dibaca, tetapi perlu didengar, dirasakan, dan dihidupkan kembali.
Ruwat Ruwet Show mengajakmu menyelami kembali kisah Aji Saka melalui perjumpaan sastra, musik, dan teater dalam satu panggung yang utuh. Sebuah pertunjukan yang mengajak kita menafsir ulang ingatan, bahasa, kuasa, dan kemanusiaan.
📅 Minggu, 12 Juli 2026
🕖 19.30 WIB
📍 Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta
Penampil:
• Kiki Pea
• Ari Hamzah
• Djati Wowok
• Nalitari
🎟️ Reservasi tiket sekarang melalui tautan: bit.ly/RuwatRuwet
Pertunjukan ini merupakan hasil implementasi Workshop Art Management yang diselenggarakan oleh Melbourne Symphony Orchestra dan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta 2025
#RuwatRuwetShow #KisahAjiSaka #KonserPembacaanNaskah #TeaterIndonesia #SastraIndonesia #MusikIndonesia #TBY #Yogyakarta #Sakatoya
Rekam | Tanya | Arah
Ada film yang fokus pada dokumentasi sejarah komunitas. Ada yang mulai membongkar cara kerjanya (industri-distribusi, legitimasi, sampai bagaimana object diposisikan). Ada juga yang menjadikan musik sebagai cara membaca identitas wilayah, bahkan sampai ke bentuk-bentuk yang lebih eksperimental, di mana musik bukan lagi pelengkap, tapi jadi struktur utama dalam bercerita. Di sisi lain, muncul juga film yang sangat artist-driven (profiling) di mana film menjadi perpanjangan dari identitas musisinya sendiri. Semua ini menunjukkan satu hal: film musik hari ini tidak lagi satu arah. Ia cair, terbuka, dan terus mencari bentuk.
Perubahan ini juga terjadi dicara distribusinya. Film tidak lagi berhenti di festival. Film menjadi lebih strategis dengan mendekatkan di mana isu/problem yang diangkat dalam film dibicarakan. Selain sebagai arsip, film dapat hidup kembali di platform digital, diputar ulang di ruang-ruang kecil, dibagikan, dibicarakan, lalu menemukan penonton baru dengan cara yang tidak terduga. Siklusnya jadi lebih panjang, lebih organik. Yang kulihat, perkembangannya jadi seperti ini: dari arsip > menjadi kritik > lalu berkembang jadi eksplorasi artistik (agen budaya maybe). Jadi lebih aware soal melihat Arsip dan kemungkinan-kemungkinannya. Pastinya ngarsip dulu yang penting.
Tapi arsip di sini bukan sekadar menyimpan masa lalu. Arsip adalah sesuatu yang hidup. Ia bisa jadi modal lokal, pijakan, bahkan alat untuk memahami siapa kita hari ini. Di tengah deru teknologi hari ini arsip memberi kedalaman. Ia menjaga kita tetap punya konteks. Masalahnya, banyak arsip berhenti di penyimpanan. Disimpan, tapi tidak dihidupkan. Padahal, arsip itu perlu diputar, didiskusikan, diolah ulang. Supaya tetap relevan. Supaya punya daya hidup.
Di situ saya mulai melihat kenapa program-program seperti dokumenter komunitas atau workshop atau pemutaran jadi penting. Bukan semata-mata karena kita belajar bikin/nonton film. Tapi karena kita belajar melihat sekitar dengan cara yang paling dekat. Ketika kita menoyalakan kamera dań mulai merekam lingkungan sendiri, ngobrol dengan orang-orang di sekitar kita, bertanya “kenapa ini ada?”, “kenapa ini penting?” di situ terjadi perubahan cara berpikir. Yang tadinya terasa biasa, jadi punya makna. Yang tadinya dianggap sepele, ternyata punya cerita panjang. Di titik itu, dokumenter bukan lagi soal kamera. Tapi soal cara memahami sekitar sebagai modal.
Buat saya pribadi, ini baru ngeh juga setelah sebulan diniati (meniatkan diri) motret terus, juga pada yang saya jalani di beberapa program termasuk #RawDocRaw, #MusikulinerPantura, Rekam Skena, dan proses-proses kolaboratif lainnya. Kuncinya ternyata sederhana: kenyamanan. Ruang yang nyaman untuk bertemu, ngobrol, mencoba, bahkan salah. Dari situ, kita mulai mengarsip dengan sendirinya. Bukan dipaksakan, tapi tumbuh dari peristiwa. Dengan cara biasanya dan sebisanya. Karena pada akhirnya, arsip bukan cuma soal hasil. Ia adalah cara kita memahami hidup kita dan mungkin pelan-pelan membentuk masa depan.
Datang, Menonton, Pulang Duluan: Cara Yogyakarta Menjaga Musik Tetap Hidup
- https://www.instagram.com/skhugila/ - Gumam
- https://www.instagram.com/japamantra.mp3/ - Wahn
- https://www.instagram.com/just_.cherish/ - (lupa gak nyatet judul lagunya), maafkan aku mas Hafid
- https://dugtrax.bandcamp.com/album/sakarin - Barisan Cecunguk & Supermuff
- https://www.instagram.com/bleeedrz/ - Sirna
- https://www.instagram.com/racaw_klab/
- Tentang acara: https://www.instagram.com/p/DT-o7mtEkrf/
- Lokasi ASCOS: https://maps.app.goo.gl/8Pw3JnUZxEbN6rqb7
Tidak Ada Kota Kreatif Tanpa Arsip: Pelajaran Penting dari 0231 Calling Cirebon
- Pentas Irama: ruang gig reguler yang menjaga kebiasaan berkumpul.
- Eastwild: saya mengenal Mas Panji di gig Tohir Crew (28 November 2025), lalu menyadari ia juga tampil sebagai MC di Jouska Records dkk pada 0231 Calling kemarin. Dan penasaran dengan scene di Cirebon Timur yang mas Panji ceritakan kemarin.
- Tohir Crew / United Control: agresif, hangat, padat, dan sangat kolektif.
- Subsonic: pintu masuk personal saya ke ekosistem gigs Cirebon.
- Yogyakarta, bertahun-tahun berada di atmosfer kreatif yang menjadikan dokumentasi bukan sekadar pelengkap, tetapi bahan bakar pertumbuhan. Di sini saya belajar bahwa arsip adalah fondasi yang membuat kota kreatif terus bergerak maju. Spesialnya, trims buat Indonesian Visual Art Archive (IVAA) yang menanamkan saya pada mindset ini.
- Pehagengsi, kolaborasi untuk distribusi mandiri gagasan karya sendiri dalam program #PehagengsterTurDalamNegeri, menjelajahi 50+ titik pemutaran di 23 kota. Dari sini saya memahami bahwa arsip perjalanan kolektif adalah mesin penguatan komunitas.
- Tutbek, kolaborasi merchandise dengan musisi sebagai praktik konversi modal sosial ke modal finansial/ekonomi dan bukan semata komoditas.
- Bioscil*, event sebagai ruang pertemuan lintas generasi dan produksi pengetahuan pada generasi selanjutnya melalui ruang cerita bersama dan bukan sekadar tontonan. Di sinilah saya belajar bahwa event bisa menjadi ruang sosial pengetahuan. *Love you ibu Hindra!
Dengan pengalaman-pengalaman itu, saya memandang 0231 Calling bukan sekadar gig, tetapi peristiwa budaya kota, titik kumpul energi yang seharusnya berdampak panjang. Di titik inilah muncul keresahan saya, dari sudut pandang orang yang percaya pada arsip sebagai aset produksi pengetahuan, bukan dari kacamata penonton kasual.














