Anomali yang Empatik dan Partisipatif*

Akhirnya ngobrol kepanjangan ama Pak Gram, ketemu juga.

Kemarin petang, gue akhirnya sempat ngobrol langsung dengan Pak Gram (Gilang Ramadhan) di JNM Bloc. Selama ini kami lebih sering berpapasan lewat pekerjaan, saling berbagi foto, atau bertemu di acara. Baru kali ini benar-benar duduk ngobrol. Beliau adalah orang yang bikin gue stop pas baca WA di reply: "Profesi hanya cara, peran adalah kesempatan."


Drawing Hagia N. untuk Pak Gram

Kalimat itu sederhana, tapi semakin dipikir semakin panjang umurnya, ini baru ajayp!!!. Kita sering terlalu suntuk mendefinisikan diri lewat profesi/gawean: desainer, fotografer, dosen, marketer, filmmaker, etc. Padahal yang jauh lebih penting adalah peran apa yang sedang kita jalankan lewat profesi itu.


Di tengah obrolan, Pak Gram menyebut satu istilah yang baru pertama kali gue dengar: bodystorming. Kalau kita akrab dengan brainstorming (mengumpulkan ide lewat diskusi, coretan, atau curah pendapat) maka bodystorming mengajak kita melangkah lebih jauh: keluar dari meja, hadir langsung di lapangan, mengalami persoalannya dengan tubuh kita sendiri. Kalo kata mas Aji Santoso, yg pernah gue sablon: 'sadar penuh hadir utuh.'


Bukan sekadar membayangkan pengalaman pengguna, tetapi benar-benar menjadi bagian dari pengalaman itu. Marketing amat ini ya ternyata...


Ternyata, setelah gue googling, istilah ini memang dikenal dalam dunia desain, terutama design thinking dan human centered design. Banyak praktisi menggunakannya untuk menggambarkan proses menguji ide melalui pengalaman langsung, observasi, simulasi, atau keterlibatan di situasi nyata, semacam test drive. Sederhananya, kalau brainstorming bertanya, "Bagaimana kalau?", maka bodystorming bertanya, "Bagaimana rasanya?"


Mendengar penjelasan itu, gue langsung paham kenapa Pak Gram sering mengajak mahasiswanya keluar kelas. Kadang serombongan juga. Mereka diajak datang ke pameran, festival, studio, bertemu pelaku industri, ngobrol dengan pemilik brand, dan mengenalkan orang-orang yang membentuk ekosistem di balik profesi kreatif. Tujuannya bukan sekadar menambah relasi, tetapi memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mengalami langsung dunia yang sebentar lagi akan mereka masuki. Contoh ini udah gue rasain sendiri, lewat hubungan baik sampai saat ini dengan Dismas dan Tyo. Buat gue, pendekatan ini terasa sangat penting.


Image susulan dari Pak Gram

Industri kreatif berubah terlalu cepat. Sering kali kampus kesulitan mengejar kecepatannya hanya lewat kurikulum. Tapi ketika mahasiswa dipertemukan dengan ekosistemnya secara langsung, mereka belajar sesuatu yang tidak selalu ada di modul: cara berpikir, cara bekerja, cara berkomunikasi, sampai cara menghadapi ketidakpastian. Kerasa banget waktu gue dapat kesempatan ngajar di Komunikasi UMY & UB, hamdallahnya udah mraktekin bodystorming juga ternyata. Hee...


Lucunya, setelah obrolan itu gue baru sadar bahwa beberapa perjalanan yang gue lakukan, dari Bioscil (nganter film pendek anak ke anak-anak) sampe Tur Dalam Negeri Pehagengsi dan yg terakhir ke Lampung & Banyumas (Cilacap & Purwokerto) kemarin buat bikin-bikin talkshow marketing-marketingan, walking tour jaman sekarang, hunting foto kaya jaman kuliah, sampe icip-icip kuliner setempat alih-alih mengunjungi brand lokal, mendengar ceritanya langsung dari para pelakunya ternyata juga merupakan bentuk bodystorming. Bedanya, selama ini gue melakukannya tanpa tahu bahwa pendekatan itu punya nama. Yah, namanya juga sebisanya dengan cara seperti biasanya, sekenanya aja, tp sadar njalaninnya heee.... Buat gue itu cara belajar yang paling membekas.


Karena pengetahuan yang hanya berhenti di kepala mudah terlupakan karena godaan algoritma. Tapi pengetahuan yang dialami tubuh akan berubah menjadi pengalaman. Dan pengalaman hampir selalu bertahan lebih lama daripada teori. Tinggal nge-breakdown jadi metode-nya aja nih yg kadang masih sulit buat gue.


Terima kasih, Pak Gram. Saya belajar banyak dari praktikmu ke mahasiswa. Bukan hanya karena mengenalkan istilah baru, tetapi karena mengingatkan bahwa pendidikan terbaik bukan selalu tentang menambah isi kepala, melainkan memperluas pengalaman hidup mahasiswanya. Kalo ada kesempatan pengen jadi mahasiswa lagi gue.


Trunk Maker Land Purwokerto, 7 Maret 2026



*Judul blog & vlog ini saya nukil dari potongan-potongan chat Pak Gram dipercakapan WA kami kmaren.

Merindukan Olski sak piturute (anak-anak e)





Foto: Hagia Nirmalam
Bonus vlog ngasih makan kambing, hee...

Lampung: Menyeberang Pulau, Menjala Api*

Lampung. Satu nama yang sudah lama akrab di kepala saya. Entah kenapa, setiap orang selalu punya asosiasi yang sama ketika menyebut Lampung: begal, gajah, atau PO. Antar Lintas Sumatera yg sering lewat depan rumah. Padahal, bagi saya, Lampung lebih dulu hadir lewat teman-teman yang saya kenal dari dunia musik dan film. Mereka yang membuat saya penasaran: sebenarnya seperti apa tanah di ujung selatan Pulau Sumatra itu? Maka ketika Mas Aryo mengajak ikut ke Lampung untuk menghadiri acara syukurannya, saya tidak berpikir panjang. "Ya!."


Kalau ditarik ke belakang, keinginan datang ke Lampung sebenarnya sudah muncul sejak 2022. Saat itu film saya, YK 48 (Pehagengsi, 2022), mendapat penghargaan Film Terbaik di Tanah Lado Fest. Sejak momen itu saya berjanji pada diri sendiri: suatu hari saya harus datang ke Lampung. Kapan? Belum tahu. Bagaimana caranya? Dipikir belakangan. Yang penting, keinginannya sudah dicicil lebih dulu.

Ada satu hal yang mungkin terdengar lucu. Tenan, iki! Ini adalah pertama kalinya saya naik kapal laut. Benar-benar pertama. Banyak teman tidak percaya. Sampai akhirnya mereka percaya juga. Seumur-umur saya belum pernah naik kapal sebesar itu. Kapal yang bahkan bisa "menelan" bus beserta seluruh penumpangnya. Kata istri saya, perjalanan laut mungkin bikin mual. Memang, tapi sedikit. Tapi rasa mual itu kalah jauh oleh rasa takjub. Rasa takjub ketika naik perlahan melalui tangga kapal. Mendengar klakson panjang yang selama ini hanya saya dengar di film. Mencium bau besi, cat kapal, dan angin laut. Lalu melihat ombak memecah di sisi lambung kapal saat daratan mulai menjauh. Pelan-pelan. Kami benar-benar meninggalkan Pulau Jawa. Alhamdulillah. Akhirnya ngerasain naik kapal. Haa…

Setelah acara mas Aryo selesai, waktunya menyambangi (menjelajah) teman-teman di Lampung. Jauh-jauh hari saya sudah menghubungi Mas Wisnu (ITERA Sumatera/Tanah Lado Fest), lalu bersambung dengan Mas Dwi (ICCN Lampung/Studio Djajan Metro), dan beberapa teman lain yang sebelumnya hanya saling mengenal lewat internet. Alasan saya sederhana. Silaturahmi. Sekalian pamer juga kalau akhirnya saya benar-benar berhasil menyeberang ke pulau mereka dan merasakan naik kapal laut untuk pertama kalinya.

Perjalanan saya dimulai ketika kolektif Party Yo Party menjemput. Kami berangkat dari daerah Sekampung Udik dengan 2 karung oleh-oleh hasil bumi dari saudaranya mas Aryo, kami menuju Bandar Lampung untuk mengantar Mas Desta (Rukii Naraya) kembali ke Jawa. Sebelum berpisah kami sempat menikmati semangkuk soto Pak Dhe, lalu melanjutkan perjalanan ke Kota Metro. Di sanalah percakapan yang panjang banget dimulai. Seperti biasa, saya datang membawa beberapa film, merchandise Pehagengsi, dan cerita-cerita dari ekosistem Rekam Skena yang saya ampu di Cherrypop Fest musik di Jawa. Sebagai gantinya, saya pulang membawa cerita mereka. Kami berbicara tentang komunitas. Tentang merchandise. Tentang arsip. Tentang sponsor. Tentang bagaimana memperpanjang umur skena yang kami cintai. Obrolan itu berlangsung di bekas kawasan Pusat Perbelanjaan Shopping Centre Metro Lampung, ruang yang dulu pernah ramai, kini menyisakan jejak-jejak kejayaannya dan sedang diupayakan lagi oleh anak-anak muda dengan warung ala skena-nya. Saat bakmi habis, obrolan pindah ke emperan, ditemani nasi goreng pedas yang rasanya seperti energi teman-teman Lampung sendiri: sederhana, tapi menghangatkan.

Malam berlanjut di Studio Djajan Metro (SDM), warung milik Mas Dwi dan keluarganya. Tempat kecil itu berubah menjadi ruang berkumpul. Anak-anak SDM Subculture yang tadi siang hadir kembali berdatangan. Kami menghabiskan malam dengan sesuatu yang sederhana tapi mahal harganya: berbagi cerita dengan sangat emosional. Cerita tentang musik. Tentang hidup. Tentang kenapa kami masih percaya bahwa kebudayaan layak diperjuangkan. Obrolan baru benar-benar berhenti ketika adzan Subuh terdengar. Bukan karena kami kehabisan topik. Tapi karena waktu memaksa kami pulang.

Keesokan harinya saya mengunjungi Pagas Records. Sebuah record store mungil yang menjual rilisan fisik, kaset, CD, piringan hitam, hingga merchandise musisi-musisi Lampung. Di tengah era streaming, tempat seperti ini terasa penting. Ia bukan sekadar toko. Ia adalah ruang temu. Ruang arsip. Ruang percakapan. Saya pulang membawa dua kaus dan satu CD rilisan lokal. Oleh-oleh terbaik selalu berupa cerita yang bisa diputar ulang.

Tujuan terakhir tentu saja Tanah Lado Fest. Festival yang mempertemukan saya dengan Lampung untuk pertama kalinya meski saat itu saya belum pernah menginjakkan kaki di sini. Festival ini lahir dari lingkungan kampus Institut Teknologi Sumatera, sebuah kampus yang relatif muda, tetapi berhasil melahirkan ruang temu antara seni, film, musik, dan mahasiswa. Bersama Mas Wisnu, kami berbincang tentang bagaimana kampus bisa menjadi laboratorium kebudayaan, tempat anak-anak muda tidak hanya belajar teori, tetapi juga membangun ekosistemnya sendiri. Percakapan itu sebenarnya belum selesai. Namun telepon dari agen bus menandai bahwa saya harus kembali ke Jawa.

Perpisahan selalu menjadi bagian paling sulit dari perjalanan. Teman-teman Lampung mengantar saya sampai ke agen bus. Mereka bergotong royong membawakan oleh-oleh. Melambaikan tangan ketika bus mulai bergerak. Saya hanya bisa membalas dari balik kaca. Kamera Handycam saya terus merekam sampai mereka benar-benar hilang dari pandangan.

Dua hari di Lampung meninggalkan satu pertanyaan yang terus berputar di kepala saya. Mengapa kota-kota di daerah sering memiliki semangat yang begitu besar, tetapi akses yang begitu kecil?

Saya melihat anak-anak muda yang rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan uangnya sendiri untuk menjaga ruang hidup kebudayaan. Saya melihat kolektif yang bergerak tanpa banyak sorotan. Saya melihat festival, record store, warung, hingga ruang nongkrong berubah menjadi simpul-simpul kebudayaan. Dan 
yang mereka butuhkan ternyata bukan sekadar lebih banyak konten.

Hari ini kita hidup di tengah algoritma yang hampir selalu membawa perhatian kita ke pusat-pusat yang sudah besar. Kita disuguhi apa yang sedang ramai, apa yang sedang viral, dan apa yang paling banyak ditonton. Sementara cerita-cerita dari daerah, praktik-praktik kecil yang justru membangun ekosistem, sering kali tidak pernah sampai ke layar kita.

Akibatnya, kita merasa tahu banyak hal, padahal belum tentu memahami apa yang benar-benar dibutuhkan oleh lingkungan kita sendiri.

Dari obrolan dua hari bersama teman-teman di Lampung, saya justru melihat kebutuhan yang lain: pertemuan fisik. Duduk melingkar. Berdiskusi. Bertanya. Mendengarkan pengalaman orang yang lebih dulu berjalan. Bukan untuk memberi jawaban, tetapi untuk membantu membaca kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan yang dimiliki setiap daerah.

Karena ekosistem budaya tidak dibangun oleh algoritma. Ia dibangun oleh kepercayaan. Dan kepercayaan lahir dari perjumpaan.

Mungkin inilah pekerjaan rumah kita bersama. Bukan hanya membuat lebih banyak konten, tetapi memperbanyak ruang temu. Menghubungkan daerah dengan daerah, mempertemukan pelaku dengan pelaku, menghadirkan orang-orang yang bisa saling belajar tanpa merasa paling tahu.

Sebab yang dibutuhkan kebudayaan hari ini bukan sekadar lebih banyak penonton. Melainkan lebih banyak orang yang benar-benar hadir.

Suryodiningratan, 11 Juli 2026





*Catatan Tur Dalam Negeri Pehagengsi luar pulau Jawa untuk pertama kalinya. Tentang Tur Dalam Negeri Pehagengsi bisa kalian intip di www.pehagengsi.blogspot.com

RUWAT RUWET SHOW

RUWAT RUWET (A Mystical Music Dramatic Reading Performance)



Ada kisah yang tidak cukup dibaca, tetapi perlu didengar, dirasakan, dan dihidupkan kembali.


Ruwat Ruwet Show mengajakmu menyelami kembali kisah Aji Saka melalui perjumpaan sastra, musik, dan teater dalam satu panggung yang utuh. Sebuah pertunjukan yang mengajak kita menafsir ulang ingatan, bahasa, kuasa, dan kemanusiaan.


📅 Minggu, 12 Juli 2026

🕖 19.30 WIB

📍 Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta


Penampil:

• Kiki Pea

• Ari Hamzah

• Djati Wowok

• Nalitari


🎟️ Reservasi tiket sekarang melalui tautan: bit.ly/RuwatRuwet


Pertunjukan ini merupakan hasil implementasi Workshop Art Management yang diselenggarakan oleh Melbourne Symphony Orchestra dan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta 2025


#RuwatRuwetShow #KisahAjiSaka #KonserPembacaanNaskah #TeaterIndonesia #SastraIndonesia #MusikIndonesia #TBY #Yogyakarta #Sakatoya

Rekam | Tanya | Arah


Beberapa tahun terakhir, saya melihat ada pergeseran menarik soal arsip terkait musik, video, visual/foto (yang paling dekat dengan saya). Dalam foto/video yang sedang saya gumuli kembali atau film musik di komunitas yang juga saya jalankan sejak bikin Bioskop Musik pada 2019 (ini ngaruh juga pasti, saya sempat 3 tahun kerja di IVAA, hee...). Waktu itu banyak film musik hadir sebagai arsip merekam perjalanan band, komunitas, atau momen penting dalam sebuah skena. Sifatnya cenderung romantik: menyimpan kenangan, merawat ingatan. Tapi sekarang, film musik mulai bergerak lebih jauh. Ia tidak hanya merekam, tapi juga membaca, bahkan melihat kemudian mempertanyakan ekosistem yang melingkupi sekaligus dihidupinya.

Ada film yang fokus pada dokumentasi sejarah komunitas. Ada yang mulai membongkar cara kerjanya (industri-distribusi, legitimasi, sampai bagaimana object diposisikan). Ada juga yang menjadikan musik sebagai cara membaca identitas wilayah, bahkan sampai ke bentuk-bentuk yang lebih eksperimental, di mana musik bukan lagi pelengkap, tapi jadi struktur utama dalam bercerita. Di sisi lain, muncul juga film yang sangat artist-driven (profiling) di mana film menjadi perpanjangan dari identitas musisinya sendiri. Semua ini menunjukkan satu hal: film musik hari ini tidak lagi satu arah. Ia cair, terbuka, dan terus mencari bentuk.

Perubahan ini juga terjadi dicara distribusinya. Film tidak lagi berhenti di festival. Film menjadi lebih strategis dengan mendekatkan di mana isu/problem yang diangkat dalam film dibicarakan. Selain sebagai arsip, film dapat hidup kembali di platform digital, diputar ulang di ruang-ruang kecil, dibagikan, dibicarakan, lalu menemukan penonton baru dengan cara yang tidak terduga. Siklusnya jadi lebih panjang, lebih organik. Yang kulihat, perkembangannya jadi seperti ini: dari arsip > menjadi kritik > lalu berkembang jadi eksplorasi artistik (agen budaya maybe). Jadi lebih aware soal melihat Arsip dan kemungkinan-kemungkinannya. Pastinya ngarsip dulu yang penting.

Tapi arsip di sini bukan sekadar menyimpan masa lalu. Arsip adalah sesuatu yang hidup. Ia bisa jadi modal lokal, pijakan, bahkan alat untuk memahami siapa kita hari ini. Di tengah deru teknologi hari ini arsip memberi kedalaman. Ia menjaga kita tetap punya konteks. Masalahnya, banyak arsip berhenti di penyimpanan. Disimpan, tapi tidak dihidupkan. Padahal, arsip itu perlu diputar, didiskusikan, diolah ulang. Supaya tetap relevan. Supaya punya daya hidup.

Di situ saya mulai melihat kenapa program-program seperti dokumenter komunitas atau workshop atau pemutaran jadi penting. Bukan semata-mata karena kita belajar bikin/nonton film. Tapi karena kita belajar melihat sekitar dengan cara yang paling dekat. Ketika kita menoyalakan kamera dań mulai merekam lingkungan sendiri, ngobrol dengan orang-orang di sekitar kita, bertanya “kenapa ini ada?”, “kenapa ini penting?” di situ terjadi perubahan cara berpikir. Yang tadinya terasa biasa, jadi punya makna. Yang tadinya dianggap sepele, ternyata punya cerita panjang. Di titik itu, dokumenter bukan lagi soal kamera. Tapi soal cara memahami sekitar sebagai modal.

Buat saya pribadi, ini baru ngeh juga setelah sebulan diniati (meniatkan diri) motret terus, juga pada yang saya jalani di beberapa program termasuk #RawDocRaw, #MusikulinerPantura, Rekam Skena, dan proses-proses kolaboratif lainnya. Kuncinya ternyata sederhana: kenyamanan. Ruang yang nyaman untuk bertemu, ngobrol, mencoba, bahkan salah. Dari situ, kita mulai mengarsip dengan sendirinya. Bukan dipaksakan, tapi tumbuh dari peristiwa. Dengan cara biasanya dan sebisanya. Karena pada akhirnya, arsip bukan cuma soal hasil. Ia adalah cara kita memahami hidup kita dan mungkin pelan-pelan membentuk masa depan.

*Video hanya pemanis (arsip meeting dengan House of Indonesia)
*IVAA: Indonesian Visual Art Archive: https://archive.ivaa-online.org/
*Dan pengen banget nonton filmnya mas Adit, A Distorted Individual (Adhitya Utama, 2025)

Link terkait:
  • #MotoSekitar: Foto-foto sekenanya di IG gue > click
  • #RawDocRaw: Vlog sekenanya juga > click
  • #MusikulinerPantura: Proyek ambisius di kampung halamanku di Cirebon-Indramayu > click
  • BMP3 X Cherry District - Road to Cherrypop 2026 > click

Datang, Menonton, Pulang Duluan: Cara Yogyakarta Menjaga Musik Tetap Hidup


Kelar olahraga pagi, refleks pertama seperti biasa: buka timeline. Di sela keringat yang belum sepenuhnya kering, satu info gigs nyempil karena kepincut ada Sakarin dan SKHU Gila. Pas waktunya, pas juga rasa penasarannya. Malam itu saya ngajak Hagia buat nonton Oom Moki (Sakarin), sekalian mengintip band-band yang selama ini cuma lewat di telinga tapi belum pernah saya saksikan langsung: SKHU Gila (Haris, Toyib dkk) dan Japa Mantra (Bable, Lukman dkk).

Semesta cukup baik malam itu. Selain lineup yg saya incer, saya dapat bonus musisi yang energinya tak main-main: Bleedrz (yang belakangan baru saya tahu ini proyeknya Oom Robo) dan band baru Mas Hafid yang juga baru saya kenal, Cherish. Kombinasi lintas generasi dan lintas fase yang khas Jogja: selalu ada wajah lama dengan baju baru, dan nama baru dengan semangat yang segar.

Bleedrz tampil di urutan kelima, setelah Sakarin (kalo kalian pernah nonton Project Babi No. 9, nah ini terusan projeknya). Baru dua lagu dimainkan, rasa kantuk mulai menyerang. Bukan karena mereka lemah, justru sebaliknya, energi mereka padat dan cheerful, tapi mungkin tubuh memang punya batas ya. Hagia pun merasakan hal yang sama. Setelah segelas es coklat habis diseruput, kami memutuskan pulang duluan.

Keputusan yang jujur saja terasa nanggung. Band Racaw masih menunggu giliran sebagai penutup Crazy Night di Asmara Art & Coffee Shop (Ascos), dan siapa pun yang pernah menonton mereka pasti tahu: itu bakal rame. Tapi gigs bukan cuma soal menuntaskan lineup. Kadang ia soal timing, kondisi tubuh, dan keputusan kecil yang sangat manusiawi alias ngantuk. wkwkkw...

Ascos sendiri, malam itu dengan reguleran musik yang sudah akrab di telinga, tempat ini selalu terasa pas untuk datang, berhenti sejenak, dan bertemu teman-teman. Jogja, seperti biasa, tak pernah gagal menghadirkan ruang presentasi yang intim. Kota ini punya kemampuan unik: membuat musik terasa dekat dan personal.

Di Yogyakarta, “teman menonton teman” bukan sekadar frasa romantik. Ia adalah energi sekaligus ekosistem. Di sela jeda antar penampil, obrolan ringan hampir selalu terjadi: komentar spontan, evaluasi jujur, candaan, sampai ide-ide liar yang kadang menjelma proyek baru atau acara lanjutan. Tidak jarang, sesuatu yang besar justru berangkat dari obrolan kecil di sudut waktu yang sempit di jeda antar penampil. Kalau tidak percaya, datang saja ke gigs dengan “gelas kosong” dan membaurlah. Jogja akan mengajarkan caranya. Seger!!!

Iklim musik independen di Yogyakarta tumbuh bukan hanya karena banyaknya band atau venue, tapi karena kemungkinan-kemungkinan yang sengaja atau tidak terciptakan. Ada kolektif, ruang alternatif, rumah-rumah kecil yang disulap jadi tempat dengar, kampus, komunitas seni, dan penonton yang inisiator juga. Semua saling menghidupi. Tidak selalu rapi, tidak selalu mapan, tapi jujur. Dan secara tidak tertulis, semua paham satu hal: ya, ini sedang berproses.

Saya datang ke gigs seperti biasa: menonton teman dan mencari energi lalu merekamnya. Mengarsipkannya. Saya terbiasa merekam teman, baik yang sudah lama dikenal maupun yang baru saya temui di panggung atau acara dalam sebuah proyek bernama #LOVSOT sejak 2011. Kamera bagi saya bukan sekadar alat dokumentasi, tapi cara untuk mendaur hidup.

Memasuki 2026, saya memulai program baru: #RawDocRaw (semacam jurnal video). Upaya merekam peristiwa apa adanya, tanpa banyak polesan, sebagai bagian dari proses saya menjalani hidup ini. Bertemu, merekam, lalu membagikannya kembali. Gigs-gigs kecil, ruang-ruang baru yang sempit, keringat, salah nada, tawa, bahkan pulang lebih awal karena ngantuk. Semuanya sah menjadi arsip.

Karena di kota seperti Yogyakarta, musik independen bukan hanya soal suara di atas panggung, tapi tentang bagaimana kita hadir, saling menyaksikan, dan meninggalkan jejak, sekecil apa pun, dalam ingatan bersama.

Terima kasih Ascos atas Crazy Night-nya. 🙌

Beberapa link yang perlu kamu telusuri (dan terekam penampilannya):

Tidak Ada Kota Kreatif Tanpa Arsip: Pelajaran Penting dari 0231 Calling Cirebon


Ada sensasi tertentu ketika seseorang tiba di kota baru lalu dengan sengaja menyaksikan sebuah momentum besar, momen ketika sebuah kota menghidupkan dirinya lewat kreatifitas anak mudanya. 0231 Calling (30 November 2025, Himas Coffee & Eatery, Cirebon) adalah momen itu bagi saya secara personal setelah hampir enam bulan tinggal di Cirebon.

Sekitar 300an muda-mudi secara perlahan memenuhi venue, menyanyikan lirik, saling dorong, tertawa, pancaran keringat, dan bersuka cita tanpa peduli siapa mereka di luar ruangan itu. Dengan line-up lintas genre: (nama akun Instagram-copas dari caption IG @0231_calling hehe) @poisonnova666, @anthrprjct, @jamessteadyrawkandbeat, @baxlaxboy (special set), @goodoldreams, @handofchainhc, @marryanne_____, @themymy, hingga kolaborasi hip-hop @jsk.record × @noyzeborn malam itu bukan hanya gig, melainkan pesta sosial dengan beat penutup yang gak mau pulang bersama @sir.marp. Komplit!


Salah satu panitia berucap pada saya: “Kurang lebih sudah 10an tahun nggak ada acara musik seramai ini di Cirebon.” Kalimat itu terus terngiang sampai detik ini. Sepuluh tahun bukan cuma “waktu lama”, ia adalah jurang (gap) generasi dalam ekosistem kreatif. Dan saya tidak datang tanpa aba-aba. Sebulan sebelumnya, saya hadir di Pre-Event 0231 Calling yang digelar Subsonic untuk Tur Raya Daendels Iksan Skuter (27 Oktober 2025) juga di venue yang sama. Crowd-nya padat, atmosfernya intens, dan dari sana saya mulai paham bahwa geliat ini tidak muncul tiba-tiba. Cirebon sedang membangun dirinya perlahan namun konsisten.


Perlahan saya mengenal jejaring kreatif yang menggerakkan musik Cirebon:
  • Pentas Irama: ruang gig reguler yang menjaga kebiasaan berkumpul.
  • Eastwild: saya mengenal Mas Panji di gig Tohir Crew (28 November 2025), lalu menyadari ia juga tampil sebagai MC di Jouska Records dkk pada 0231 Calling kemarin. Dan penasaran dengan scene di Cirebon Timur yang mas Panji ceritakan kemarin.
  • Tohir Crew / United Control: agresif, hangat, padat, dan sangat kolektif.
  • Subsonic: pintu masuk personal saya ke ekosistem gigs Cirebon.
Semua ini bukan determinasi yang muncul sekejap. Livotix, platform ticketing buatan penyelenggara, menegaskan bahwa 0231 Calling bukan hanya event melainkan pembangunan infrastruktur budaya.

Di tengah euforia malam itu, seperti biasa, saya membuat video jurnal (vlog) #RawDocRaw berdurasi 2 jam 30 menit 08 detik. Mentah. Tidak dipotong. Tidak diperindah. Hanya satu niat: agar energi itu tidak hilang setelah malam selesai. Saya terlalu sering menyaksikan peristiwa budaya/gagasan besar menguap tanpa jejak. Beruntung bertemu sama Fajri, Rio, dan Edwin juga merekamnya secara proper dan kawan panitia di FKSM lainnya.

Kesadaran untuk mengarsip bukan datang tiba-tiba di Cirebon, tapi karena Cirebon juga saya mulai membuat vlog, hee… Namun, kebiasaan mengarsip ini terbentuk dari perjalanan/pengalaman saya sebelumnya:
  • Yogyakarta, bertahun-tahun berada di atmosfer kreatif yang menjadikan dokumentasi bukan sekadar pelengkap, tetapi bahan bakar pertumbuhan. Di sini saya belajar bahwa arsip adalah fondasi yang membuat kota kreatif terus bergerak maju. Spesialnya, trims buat Indonesian Visual Art Archive (IVAA) yang menanamkan saya pada mindset ini.
  • Pehagengsi, kolaborasi untuk distribusi mandiri gagasan karya sendiri dalam program #PehagengsterTurDalamNegeri, menjelajahi 50+ titik pemutaran di 23 kota. Dari sini saya memahami bahwa arsip perjalanan kolektif adalah mesin penguatan komunitas.
  • Tutbek, kolaborasi merchandise dengan musisi sebagai praktik konversi modal sosial ke modal finansial/ekonomi dan bukan semata komoditas.
  • Bioscil*, event sebagai ruang pertemuan lintas generasi dan produksi pengetahuan pada generasi selanjutnya melalui ruang cerita bersama dan bukan sekadar tontonan. Di sinilah saya belajar bahwa event bisa menjadi ruang sosial pengetahuan. *Love you ibu Hindra!
Portofolio itulah yang membantu saya bekerja dua minggu sebelum 0231 Calling, sebagai Manajer Publikasi dan Dokumentasi untuk acara Festival Komunitas Seni Media (FKSM) 2025 di Pelabuhan Cirebon (17–23 November 2025). Selama 7 hari ribuan pengunjung datang, berbincang, berkarya, menciptakan jejaring lintas disiplin. Pengalaman itu membuat saya cepat mengenal lanskap kreatif Cirebon dan menyadari: kota ini sedang berada dalam titik didih terpanas momentum historis kreatifitas anak mudanya. Sependek pengetahuan saya yang baru enam bulan intens di kabupaten ini.


Dengan pengalaman-pengalaman itu, saya memandang 0231 Calling bukan sekadar gig, tetapi peristiwa budaya kota, titik kumpul energi yang seharusnya berdampak panjang. Di titik inilah muncul keresahan saya, dari sudut pandang orang yang percaya pada arsip sebagai aset produksi pengetahuan, bukan dari kacamata penonton kasual.


Untuk acara sebesar ini, dengan line-up kuat, crowd tiga ratusan orang, ekosistem yang terkoneksi, dan sejarah 10an tahun kekosongan, sangat disayangkan tidak ada publikasi fisik seperti booklet/flyer fotokopian berisi tentang acara/program, lembar profil musisi/kolektif, daftar pelapak, maupun info narasi acara atau profile kolektif penyelenggara sampai yang terlibat di venue. Informasi hanya disampaikan lewat MC sepanjang pertunjukan, dan tentu banyak yang terlewat karena kita datang untuk mengalami, bukan mencatat. Piss mas Alam dan mas Bojong saya masih suka ama info2 selebaran fisik...

Publikasi fisik bukan sekadar pelengkap ia adalah cara kota menyimpan ingatannya sendiri. Ia dibaca di rumah, disimpan di kamar, diwariskan antar generasi kreatif. Ia menjadi arsip budaya. Saya menyampaikan ini karena saya percaya, Cirebon berhak mengingat dirinya sendiri.

Jika energi sebesar 30 November 2025 berlalu tanpa arsip, kota ini kehilangan kesempatan belajar dari dirinya sendiri. Kita sedang menyaksikan sejarah kecil dan sejarah kecil berharga hanya jika disimpan dan dikembangkan. Malam itu bukan hanya gigs; ia adalah penanda bahwa Cirebon sedang menulis bab baru budaya anak muda oleh pemuda-pemudinya sendiri. Dan seperti karakter pelabuhan yang sejak ratusan tahun menjadi titik temu ragam energi; perdagangan, budaya, musik, ideologi, Cirebon kembali menyerap, bertemu, membentur, membentuk, dan terbentuk.

Sekarang tugas kita sederhana namun mendasar: Jangan hanya merayakan energi, simpanlah ia. Karena yang tidak disimpan (diarsipkan) hari ini tidak akan menjadi pengetahuan kota besok. Kita ingin masa depan di mana orang berkata bukan: “Pernah ada acara sekeren 0231 Calling,” melainkan: “Kita tumbuh karena acara-acara seperti 0231 Calling.” Selama ingatan kolektif dijaga, Cirebon tidak hanya bergeliat, namun Cirebon sedang… Silahkan isi sendiri bagi kalian yang kemarin hadir di acara-acara yang saya sebut di atas. Drop your comment, yes. Sipsip!




Simak video jurnal saya selama di Cirebon di sini (click).

Bonus yang terfoto kemarin.