Kelar olahraga pagi, refleks pertama seperti biasa: buka timeline. Di sela keringat yang belum sepenuhnya kering, satu info gigs nyempil karena kepincut ada Sakarin dan SKHU Gila. Pas waktunya, pas juga rasa penasarannya. Malam itu saya ngajak Hagia buat nonton Oom Moki (Sakarin), sekalian mengintip band-band yang selama ini cuma lewat di telinga tapi belum pernah saya saksikan langsung: SKHU Gila (Haris, Toyib dkk) dan Japa Mantra (Bable, Lukman dkk).
Semesta cukup baik malam itu. Selain lineup yg saya incer, saya dapat bonus musisi yang energinya tak main-main: Bleedrz (yang belakangan baru saya tahu ini proyeknya Oom Robo) dan band baru Mas Hafid yang juga baru saya kenal, Cherish. Kombinasi lintas generasi dan lintas fase yang khas Jogja: selalu ada wajah lama dengan baju baru, dan nama baru dengan semangat yang segar.
Bleedrz tampil di urutan kelima, setelah Sakarin (kalo kalian pernah nonton Project Babi No. 9, nah ini terusan projeknya). Baru dua lagu dimainkan, rasa kantuk mulai menyerang. Bukan karena mereka lemah, justru sebaliknya, energi mereka padat dan cheerful, tapi mungkin tubuh memang punya batas ya. Hagia pun merasakan hal yang sama. Setelah segelas es coklat habis diseruput, kami memutuskan pulang duluan.
Keputusan yang jujur saja terasa nanggung. Band Racaw masih menunggu giliran sebagai penutup Crazy Night di Asmara Art & Coffee Shop (Ascos), dan siapa pun yang pernah menonton mereka pasti tahu: itu bakal rame. Tapi gigs bukan cuma soal menuntaskan lineup. Kadang ia
