GOING NEXT TO NOWHERE
A living journal of stories, culture, and creative work.
10:10 - Ruang, Tempat, dan Liat
Momentum 10.10 hari ini menghadirkan refleksi mendalam buat gue soal gimana manusia berelasi dengan ruang. Tetiba teringat obrolan dengan mas Yoshi Fajar* soal ruang (space) dan tempat (place) memiliki makna yang berbeda namun saling berkelindan.
Gampangannya gini, tempat adalah ruang yang telah diberi makna, identitas, aturan main, serta batas struktural yang jelas seperti gedung bioskop, pusat kebudayaan atau parkiran indomaret yang banyak pesulapnya. Sebaliknya, ruang bersifat lebih cair, organik, dan melekat pada praktik sosial yang dihidupkannya setiap hari dan biasanya menyelinap di tempat-tempat macam di atas.
THE LAST TARLING IN THE WORLD (Dongeng pesisir tentang gitar, suling, dan orang-orang yang menolak kalah)*
Ada sebuah cerita yang tidak akan pernah diceritakan keluargamu.
Bukan karena mereka lupa, bukan pula karena cerita itu terlalu menyeramkan untuk diceritakan kepada anak-anak. Konon, cerita ini memang tidak diwariskan melalui buku pelajaran, tidak disimpan di lemari kaca museum, dan tidak pernah menjadi bagian dari percakapan resmi tentang sejarah negeri ini.
Cerita ini hanya bisa ditemukan di sekitar pesisir.
Ia bersembunyi di antara suara ombak yang memukul tanggul, di dalam percakapan orang-orang yang duduk terlalu lama di warung kopi, di sela-sela bunyi perahu yang pulang menjelang pagi, dan di antara cerita seseorang yang bersumpah pernah melihat sesuatu yang tidak mungkin dilihat orang lain.
Kadang-kadang, cerita itu muncul ketika angin laut membawa bau hujan dari tempat yang jauh. Kadang-kadang, ia datang melalui suara suling yang terdengar dari rumah kosong. Pada malam-malam tertentu, ketika listrik padam dan kampung kehilangan suara televisi, seseorang mungkin mendengar gitar dipetik dari arah yang tidak bisa ditunjuk dengan pasti.
Jika kau bertanya kepada orang-orang tua tentang asal suara itu, sebagian akan tertawa. Sebagian lain akan menyuruhmu pulang sebelum terlalu malam.
Tetapi ada juga yang akan berkata pelan-pelan, seolah-olah sedang membocorkan rahasia yang sudah dijaganya selama puluhan tahun.
“Kalau suatu malam kau mendengar musik dari tempat yang tidak seharusnya ada musik, jangan buru-buru mencari siapa yang memainkannya. Dengarkan dulu. Siapa tahu, kau sedang dipanggil.”
Begitulah cerita tentang Tarling dimulai.
Atau, mungkin, begitulah cerita ini sengaja dibuat seolah-olah dimulai.
Di Pekan Kata Warung Sastra Kita Bergembira Ria Bersama-Sama Selamanya
Trims mas Asef, mas Andre, mbak Deborah, mas Syahdan dan segenap kru yang bertugas di Pekan Kata Warung Sastra 2026 yang satset banget.
Satu peristiwa membawa kita ke peristiwa lainnya
Yang paling saya ingat, Hagia juga ikut main di film itu sebagai Eva kecil, salah satu tokoh
Anomali yang Empatik dan Partisipatif*
Akhirnya ngobrol kepanjangan ama Pak Gram, ketemu juga.
Kemarin petang, gue akhirnya sempat ngobrol langsung dengan Pak Gram (Gilang Ramadhan) di JNM Bloc. Selama ini kami lebih sering berpapasan lewat pekerjaan, saling berbagi foto, atau bertemu di acara. Baru kali ini benar-benar duduk ngobrol. Beliau adalah orang yang bikin gue stop pas baca WA di reply: "Profesi hanya cara, peran adalah kesempatan."
Kalimat itu sederhana, tapi semakin dipikir semakin panjang umurnya, ini baru ajayp!!!. Kita sering terlalu suntuk mendefinisikan diri lewat profesi/gawean: desainer, fotografer, dosen, marketer, filmmaker, etc. Padahal yang jauh lebih penting adalah peran apa yang sedang kita jalankan lewat profesi itu.
Di tengah obrolan, Pak Gram menyebut satu istilah yang baru pertama kali gue dengar: bodystorming. Kalau kita akrab dengan brainstorming (mengumpulkan ide lewat diskusi, coretan, atau curah pendapat) maka bodystorming mengajak kita melangkah lebih jauh: keluar dari meja, hadir langsung di lapangan, mengalami persoalannya dengan tubuh kita sendiri. Kalo kata mas Aji Santoso, yg pernah gue sablon: 'sadar penuh hadir utuh.'
Bukan sekadar membayangkan pengalaman pengguna, tetapi benar-benar menjadi bagian dari pengalaman itu. Marketing amat ini ya ternyata...
Ternyata, setelah gue googling, istilah ini memang dikenal dalam dunia desain, terutama design thinking dan human centered design. Banyak praktisi menggunakannya untuk menggambarkan proses menguji ide melalui pengalaman langsung, observasi, simulasi, atau keterlibatan di situasi nyata, semacam test drive. Sederhananya, kalau brainstorming bertanya, "Bagaimana kalau?", maka bodystorming bertanya, "Bagaimana rasanya?"
Mendengar penjelasan itu, gue langsung paham kenapa Pak Gram sering mengajak mahasiswanya keluar kelas. Kadang serombongan juga. Mereka diajak datang ke pameran, festival, studio, bertemu pelaku industri, ngobrol dengan pemilik brand, dan mengenalkan orang-orang yang membentuk ekosistem di balik profesi kreatif. Tujuannya bukan sekadar menambah relasi, tetapi memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mengalami langsung dunia yang sebentar lagi akan mereka masuki. Contoh ini udah gue rasain sendiri, lewat hubungan baik sampai saat ini dengan Dismas dan Tyo. Buat gue, pendekatan ini terasa sangat penting.
Industri kreatif berubah terlalu cepat. Sering kali kampus kesulitan mengejar kecepatannya hanya lewat kurikulum. Tapi ketika mahasiswa dipertemukan dengan ekosistemnya secara langsung, mereka belajar sesuatu yang tidak selalu ada di modul: cara berpikir, cara bekerja, cara berkomunikasi, sampai cara menghadapi ketidakpastian. Kerasa banget waktu gue dapat kesempatan ngajar di Komunikasi UMY & UB, hamdallahnya udah mraktekin bodystorming juga ternyata. Hee...
Lucunya, setelah obrolan itu gue baru sadar bahwa beberapa perjalanan yang gue lakukan, dari Bioscil (nganter film pendek anak ke anak-anak) sampe Tur Dalam Negeri Pehagengsi dan yg terakhir ke Lampung & Banyumas (Cilacap & Purwokerto) kemarin buat bikin-bikin talkshow marketing-marketingan, walking tour jaman sekarang, hunting foto kaya jaman kuliah, sampe icip-icip kuliner setempat alih-alih mengunjungi brand lokal, mendengar ceritanya langsung dari para pelakunya ternyata juga merupakan bentuk bodystorming. Bedanya, selama ini gue melakukannya tanpa tahu bahwa pendekatan itu punya nama. Yah, namanya juga sebisanya dengan cara seperti biasanya, sekenanya aja, tp sadar njalaninnya heee.... Buat gue itu cara belajar yang paling membekas.
Karena pengetahuan yang hanya berhenti di kepala mudah terlupakan karena godaan algoritma. Tapi pengetahuan yang dialami tubuh akan berubah menjadi pengalaman. Dan pengalaman hampir selalu bertahan lebih lama daripada teori. Tinggal nge-breakdown jadi metode-nya aja nih yg kadang masih sulit buat gue.
Terima kasih, Pak Gram. Saya belajar banyak dari praktikmu ke mahasiswa. Bukan hanya karena mengenalkan istilah baru, tetapi karena mengingatkan bahwa pendidikan terbaik bukan selalu tentang menambah isi kepala, melainkan memperluas pengalaman hidup mahasiswanya. Kalo ada kesempatan pengen jadi mahasiswa lagi gue.
![]() |
| Trunk Maker Land Purwokerto, 7 Maret 2026 |
*Judul blog & vlog ini saya nukil dari potongan-potongan chat Pak Gram dipercakapan WA kami kmaren.
Lampung: Menyeberang Pulau, Menjala Api*
RUWAT RUWET SHOW
RUWAT RUWET (A Mystical Music Dramatic Reading Performance)
Ada kisah yang tidak cukup dibaca, tetapi perlu didengar, dirasakan, dan dihidupkan kembali.
Ruwat Ruwet Show mengajakmu menyelami kembali kisah Aji Saka melalui perjumpaan sastra, musik, dan teater dalam satu panggung yang utuh. Sebuah pertunjukan yang mengajak kita menafsir ulang ingatan, bahasa, kuasa, dan kemanusiaan.
📅 Minggu, 12 Juli 2026
🕖 19.30 WIB
📍 Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta
Penampil:
• Kiki Pea
• Ari Hamzah
• Djati Wowok
• Nalitari
🎟️ Reservasi tiket sekarang melalui tautan: bit.ly/RuwatRuwet
Pertunjukan ini merupakan hasil implementasi Workshop Art Management yang diselenggarakan oleh Melbourne Symphony Orchestra dan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta 2025
#RuwatRuwetShow #KisahAjiSaka #KonserPembacaanNaskah #TeaterIndonesia #SastraIndonesia #MusikIndonesia #TBY #Yogyakarta #Sakatoya













