Yang paling saya ingat, Hagia juga ikut main di film itu sebagai Eva kecil, salah satu tokoh utama. Kalau penasaran, coba perhatikan adegan anak kecil yang sedang main tanah. Itu Hagia.
Teaser Maaf Senin Tutup:
Setahun kemudian, 2019, saya kembali lagi ke Kedai Rukun. Kali ini bukan untuk syuting, tapi untuk menyemarakan Pang Ping Pong Cup. Kami sampai meng-hire Pak Toyo dari Ayam Chicken Geprek KPY untuk ikut bertanding. Dan hasilnya? Juara pertama! Haaa...
Arsip Pang Ping Pong Cup:
Jadi ketika beberapa tahun kemudian saya kembali ke tempat ini, memorinya langsung tumpah semua.
Kali ini ceritanya dimulai dari ajakan Mas Aryo. Kami mau berangkat melayat Pak Nasirun, seniman yang kediamannya tidak terlalu jauh dari Kedai Rukun. Sebelum berangkat, Mas Aryo tiba-tiba nyeletuk,
"Doyan es tape?"
"Doyan, dong!"
"Yaudah, pulangnya kita ke Kedai Rukun."
Deal.
Berangkatlah kami.
Saya pertama kali mengenal Pak Nasirun ketika bekerja di Indonesian Visual Art Archive (IVAA). Waktu itu ada kunjungan ke rumahnya. Rumahnya besar, tapi ketawa Pak Nasirun jauh lebih besar. Hahaha. Sekali beliau ketawa, rasanya satu ruangan ikut terbawa.
Setelah itu saya beberapa kali bertemu lagi di berbagai pameran. Pernah juga melihat beliau ketika saya bekerja untuk Mbak Yenny Wahid di rumahnya. Saya memang tidak bisa bilang mengenal Pak Nasirun secara dekat. Tapi dari cerita para pelayat hari itu, saya mendengar banyak hal tentang bagaimana beliau menjalani kesenian dan kebudayaan.
Salah satu cerita yang cukup menempel di kepala saya: ketika sebuah karyanya laku, sebagian uangnya digunakan untuk membeli karya seniman senior atau orang yang ia anggap sebagai guru. Buat saya, itu keren.
Ada semacam sikap untuk mengembalikan sesuatu kepada tempat kita belajar. Ketika sudah mendapatkan sesuatu dari dunia seni, sebagian dari apa yang kita dapatkan dikembalikan lagi kepada orang-orang yang lebih dulu membuka jalan.
Mungkin begitu pula sebuah kebudayaan bisa terus hidup: bukan hanya karena karya disimpan, tetapi karena orang-orang di dalamnya saling mengingat, saling menghidupi, dan meneruskan sesuatu kepada generasi setelahnya.
Saya sendiri mungkin belum banyak belajar dari Pak Nasirun. Yang paling saya ingat justru ketawanya. Dan ngapaknya. Kebetulan akhir-akhir ini saya juga sedang sering berhubungan dengan teman-teman di Banyumas dan sekitarnya, jadi mendengar bahasa dan cara bicaranya terasa cukup familiar.
Tapi mungkin saya memang masih harus belajar dari apa yang sudah beliau tinggalkan: karya-karyanya, cara hidupnya, cerita-cerita orang tentang dirinya, dan bagaimana ia menempatkan seni sebagai bagian dari laku kebudayaannya. Terima kasih, Pak. Maaf juga tadi saya sempat ketiduran sebentar di teras rumah yang adem banget itu.
Setelah selesai melayat, kami pulang. Dan seperti janji Mas Aryo tadi... Kedai Rukun.
Es tapenya memang tidak ada lawan. Tape ijonya banyak, susu putihnya juga banyak. Begitu sekali diseruput, rasanya susah berhenti. Masalahnya, tape dan susunya bikin bagian dalam leher terasa lengket. Akhirnya auto pengen cepat-cepat dihabisin supaya tenggorokan kembali lega. Coba aja sendiri.
Karena sedang di Kedai Rukun kami ingin bertemu Mas Bigot, pemilik Kedai Rukun, tapi sepertinya beliau sedang tidak ada di tempat. Warkop barunya juga kebetulan belum buka. Ya sudah. Belum rezeki ketemu. Tapi ada kejutan kecil. Ibu dan bapak yang menjaga kedai ternyata masih ingat ketika saya dulu syuting di sini pada 2018.
Kadang yang membuat sebuah tempat terasa seperti rumah bukan bangunannya. Tapi orang-orang yang masih mengingat kita setelah bertahun-tahun pergi. Sebelum berangkat, ibu itu berpesan,
"Semoga semua sehat, lancar rezeki, dan bisa ke sini lagi."
"Salam buat Mas Bigot, ya, Pak!"
Pungkas saya sebelum meninggalkan kasir.
Terima kasih Mas Aryo yang sudah boncengin saya, ngajak melayat, dan kemudian nraktir jajan di Kedai Rukun. Sabtu yang indah. Tadi kami berangkat untuk melayat. Pulangnya makan es tape. Tapi di perjalanan, ada banyak sekali ingatan yang ikut pulang.
Datang untuk jajan, pulang bawa ingatan.











