Pasca fenomena “boom” film pendek Tilik karya Wahyu Agung Prasetyo, Ravacana Films terus mengembangkan cara baru agar film pendek bisa menemukan penontonnya. Salah satunya lewat program Ravacana & Friends, sebuah kanal distribusi film pendek melalui YouTube @RavacanaFilms yang kini diperluas ke ranah luring melalui program Sinema Nongkrong Malam (SINOM).

SINOM bukan sekadar pemutaran film, tapi ruang temu: antara pembuat film, karya, dan penonton dalam suasana yang lebih santai dan setara, koyo biasane (seperti biasanya), khas ekosistem film independen Yogyakarta yang mengandalkan kedekatan, bukan sekadar formalitas festival.

Pada edisi perdananya, SINOM memutar tiga film pendek dengan pendekatan distribusi yang berbeda:

  • “Rumah Duka” (2026) karya Riza Pahlevi, yang sebelumnya dikenal lewat Makmum (film pendek horor yang viral dan kemudian diadaptasi menjadi Makmum karya Hadrah Daeng Ratu). Kasus ini menunjukkan bagaimana film pendek bisa menjadi batu loncatan ke industri film panjang.
  • “Suintrah” (2024) karya Alyesa Alma Almera, peraih Film Pendek Terbaik di Festival Film Indonesia 2024 dan telah beredar di berbagai festival internasional, mewakili jalur distribusi festival.
  • “YK 48” (2022), film dokumenter yang saya kerjakan, dengan pendekatan distribusi mandiri melalui program tur luring #PehagengsterTurDalamNegeri.


Diskusi setelah pemutaran menjadi salah satu bagian paling hidup dari SINOM. Obrolan mengerucut pada satu hal penting: bagaimana film bisa bertemu penontonnya di luar jalur festival. Seorang penonton, Mbak Ana (yang baru pindah ke Yogyakarta) melempar pertanyaan menarik: “Bagaimana mengubah mindset pembuat film pendek agar film-nya bisa menemukan banyak cara untuk sampai ke penontonnya?” Dari situ, percakapan melebar ke berbagai kemungkinan distribusi: dari platform digital, pemutaran komunitas, hingga fenomena konten potongan (clipper) seperti drama Cina yang kini banyak dikonsumsi secara fragmentaris di media sosial. Diskusi ini menegaskan bahwa pola distribusi film saat ini semakin cair—tidak lagi tunggal, dan justru membuka peluang baru.

Bagi film YK 48, pemutaran ini menjadi layar ke-9 di Yogyakarta dari total 32 kali pemutaran sejak rilis perdananya pada 30 Maret 2022. Terakhir sebelumnya diputar di JNM Bloc pada 30 Maret 2024. Film ini mencoba merekam potongan sejarah perkembangan film di Yogyakarta dari era awal pasca kemerdekaan sekitar 1948, hingga munculnya fenomena film pendek digital seperti Tilik yang membuka jalan bagi distribusi film pendek melalui YouTube dan platform daring lainnya.

Program seperti SINOM memperlihatkan satu hal penting: film tidak berhenti saat tidak lolos festival atau hanta menunggu Undangan untuk diputar, ia justru mulai hidup ketika bertemu penontonnya melalui jalur-jalur yang kita ciptakan bersama. Dan di kota seperti Yogyakarta, pertemuan itu bisa terjadi dengan cara yang hangat, sederhana, dan penuh percakapan. Terima kasih untuk semua yang sudah datang, menonton, berdiskusi, dan bahkan ikut mendukung lewat jajan merchandise. Sampai jumpa di layar berikutnya. Untuk informasi lebih lanjut tentang Ravacana & Friends dan SINOM, bisa dipantau melalui Instagram Ravacana Films.

Tapi sebelum itu, mungkin ada satu pertanyaan yang layak kita bawa pulang “kenapa filmmu harus ditonton banyak orang?” atau bahkan lebih jauh, “kenapa kamu memilih membuat film, bukan yang lain?”

Selamat, Minggu…

*bonus vlog #RawDocRaw hee...
Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: