Beberapa tahun terakhir, saya melihat ada pergeseran menarik soal arsip terkait musik, yang paling dekat dengan saya, dalam film musik di komunitas yang saya geluti sejak bikin Bioskop Musik pada 2019 (ini ngaruh juga pasti, 3 tahun kerja di IVAA, hee...). Waktu itu banyak film musik hadir sebagai arsip merekam perjalanan band, komunitas, atau momen penting dalam sebuah skena. Sifatnya cenderung romantik: menyimpan kenangan, merawat ingatan. Tapi sekarang, film musik mulai bergerak lebih jauh. Ia tidak hanya merekam, tapi juga membaca, bahkan melihat kemudian mempertanyakan ekosistem yang melingkupi sekaligus dihidupinya.
Ada film yang fokus pada dokumentasi sejarah komunitas. Ada yang mulai membongkar cara kerjanya (industri-distribusi, legitimasi, sampai bagaimana object diposisikan). Ada juga yang menjadikan musik sebagai cara membaca identitas wilayah, bahkan sampai ke bentuk-bentuk yang lebih eksperimental, di mana musik bukan lagi pelengkap, tapi jadi struktur utama dalam bercerita. Di sisi lain, muncul juga film yang sangat artist-driven (profiling) di mana film menjadi perpanjangan dari identitas musisinya sendiri. Semua ini menunjukkan satu hal: film musik hari ini tidak lagi satu arah. Ia cair, terbuka, dan terus mencari bentuk.
Perubahan ini juga terjadi dicara distribusinya. Film tidak lagi berhenti di festival. Film menjadi lebih strategis dengan mendekatkan di mana isu/problem yang diangkat dalam film dibicarakan. Selain sebagai arsip, film dapat hidup kembali di platform digital, diputar ulang di ruang-ruang kecil, dibagikan, dibicarakan, lalu menemukan penonton baru dengan cara yang tidak terduga. Siklusnya jadi lebih panjang, lebih organik. Yang kulihat, perkembangannya jadi seperti ini: dari arsip > menjadi kritik > lalu berkembang jadi eksplorasi artistik (agen budaya maybe). Jadi lebih aware soal melihat Arsip dan kemungkinan-kemungkinannya. Pastinya ngarsip dulu yang penting.
Tapi arsip di sini bukan sekadar menyimpan masa lalu. Arsip adalah sesuatu yang hidup. Ia bisa jadi modal lokal, pijakan, bahkan alat untuk memahami siapa kita hari ini. Di tengah deru teknologi hari ini arsip memberi kedalaman. Ia menjaga kita tetap punya konteks. Masalahnya, banyak arsip berhenti di penyimpanan. Disimpan, tapi tidak dihidupkan. Padahal, arsip itu perlu diputar, didiskusikan, diolah ulang. Supaya tetap relevan. Supaya punya daya hidup.
Di situ saya mulai melihat kenapa program-program seperti dokumenter komunitas atau workshop atau pemutaran jadi penting. Bukan semata-mata karena kita belajar bikin/nonton film. Tapi karena kita belajar melihat sekitar dengan cara yang paling dekat. Ketika kita menoyalakan kamera dań mulai merekam lingkungan sendiri, ngobrol dengan orang-orang di sekitar kita, bertanya “kenapa ini ada?”, “kenapa ini penting?” di situ terjadi perubahan cara berpikir. Yang tadinya terasa biasa, jadi punya makna. Yang tadinya dianggap sepele, ternyata punya cerita panjang. Di titik itu, dokumenter bukan lagi soal kamera. Tapi soal cara memahami sekitar sebagai modal.
Buat saya pribadi, ini baru ngeh juga setelah sebulan diniati (meniatkan diri) motret terus, juga yang saya jalani (ternyata) di beberapa program yang saya kerjakan, termasuk #RawDocRaw, #MusikulinerPantura, Rekam Skena, dan proses-proses kolaboratif lainnya. Kuncinya ternyata sederhana: kenyamanan. Ruang yang nyaman untuk bertemu. Nyaman untuk ngobrol. Nyaman untuk mencoba, bahkan salah. Dari situ, kita mulai mengarsip dengan sendirinya. Bukan dipaksakan, tapi tumbuh dari peristiwa. Dengan cara biasanya dan sebisanya. Karena pada akhirnya, film bukan cuma soal hasil. Ia adalah cara kita memahami hidup kita dan mungkin pelan-pelan membentuk masa depan.
*Video hanya pemanis (arsip meeting dengan House of Indonesia)
*Dan pengen banget nonton filmnya mas Adit, A Distorted Individual (Adhitya Utama, 2025)
0 komentar:
Post a Comment