Lampung: Menyeberang Pulau, Menjala Api*

Lampung. Satu nama yang sudah lama akrab di kepala saya. Entah kenapa, setiap orang selalu punya asosiasi yang sama ketika menyebut Lampung: begal, gajah, atau PO. Antar Lintas Sumatera yg sering lewat depan rumah. Padahal, bagi saya, Lampung lebih dulu hadir lewat teman-teman yang saya kenal dari dunia musik dan film. Mereka yang membuat saya penasaran: sebenarnya seperti apa tanah di ujung selatan Pulau Sumatra itu? Maka ketika Mas Aryo mengajak ikut ke Lampung untuk menghadiri acara syukurannya, saya tidak berpikir panjang. "Ya!."


Kalau ditarik ke belakang, keinginan datang ke Lampung sebenarnya sudah muncul sejak 2022. Saat itu film saya, YK 48 (Pehagengsi, 2022), mendapat penghargaan Film Terbaik di Tanah Lado Fest. Sejak momen itu saya berjanji pada diri sendiri: suatu hari saya harus datang ke Lampung. Kapan? Belum tahu. Bagaimana caranya? Dipikir belakangan. Yang penting, keinginannya sudah dicicil lebih dulu.

Ada satu hal yang mungkin terdengar lucu. Tenan, iki! Ini adalah pertama kalinya saya naik kapal laut. Benar-benar pertama. Banyak teman tidak percaya. Sampai akhirnya mereka percaya juga. Seumur-umur saya belum pernah naik kapal sebesar itu. Kapal yang bahkan bisa "menelan" bus beserta seluruh penumpangnya. Kata istri saya, perjalanan laut mungkin bikin mual. Memang, tapi sedikit. Tapi rasa mual itu kalah jauh oleh rasa takjub. Rasa takjub ketika naik perlahan melalui tangga kapal. Mendengar klakson panjang yang selama ini hanya saya dengar di film. Mencium bau besi, cat kapal, dan angin laut. Lalu melihat ombak memecah di sisi lambung kapal saat daratan mulai menjauh. Pelan-pelan. Kami benar-benar meninggalkan Pulau Jawa. Alhamdulillah. Akhirnya ngerasain naik kapal. Haa…

Setelah acara mas Aryo selesai, waktunya menyambangi (menjelajah) teman-teman di Lampung. Jauh-jauh hari saya sudah menghubungi Mas Wisnu (ITERA Sumatera/Tanah Lado Fest), lalu bersambung dengan Mas Dwi (ICCN Lampung/Studio Djajan Metro), dan beberapa teman lain yang sebelumnya hanya saling mengenal lewat internet. Alasan saya sederhana. Silaturahmi. Sekalian pamer juga kalau akhirnya saya benar-benar berhasil menyeberang ke pulau mereka dan merasakan naik kapal laut untuk pertama kalinya.

Perjalanan saya dimulai ketika kolektif Party Yo Party menjemput. Kami berangkat dari daerah Sekampung Udik dengan 2 karung oleh-oleh hasil bumi dari saudaranya mas Aryo, kami menuju Bandar Lampung untuk mengantar Mas Desta (Rukii Naraya) kembali ke Jawa. Sebelum berpisah kami sempat menikmati semangkuk soto Pak Dhe, lalu melanjutkan perjalanan ke Kota Metro. Di sanalah percakapan yang panjang banget dimulai. Seperti biasa, saya datang membawa beberapa film, merchandise Pehagengsi, dan cerita-cerita dari ekosistem Rekam Skena yang saya ampu di Cherrypop Fest musik di Jawa. Sebagai gantinya, saya pulang membawa cerita mereka. Kami berbicara tentang komunitas. Tentang merchandise. Tentang arsip. Tentang sponsor. Tentang bagaimana memperpanjang umur skena yang kami cintai. Obrolan itu berlangsung di bekas kawasan Pusat Perbelanjaan Shopping Centre Metro Lampung, ruang yang dulu pernah ramai, kini menyisakan jejak-jejak kejayaannya dan sedang diupayakan lagi oleh anak-anak muda dengan warung ala skena-nya. Saat bakmi habis, obrolan pindah ke emperan, ditemani nasi goreng pedas yang rasanya seperti energi teman-teman Lampung sendiri: sederhana, tapi menghangatkan.

Malam berlanjut di Studio Djajan Metro (SDM), warung milik Mas Dwi dan keluarganya. Tempat kecil itu berubah menjadi ruang berkumpul. Anak-anak SDM Subculture yang tadi siang hadir kembali berdatangan. Kami menghabiskan malam dengan sesuatu yang sederhana tapi mahal harganya: berbagi cerita dengan sangat emosional. Cerita tentang musik. Tentang hidup. Tentang kenapa kami masih percaya bahwa kebudayaan layak diperjuangkan. Obrolan baru benar-benar berhenti ketika adzan Subuh terdengar. Bukan karena kami kehabisan topik. Tapi karena waktu memaksa kami pulang.

Keesokan harinya saya mengunjungi Pagas Records. Sebuah record store mungil yang menjual rilisan fisik, kaset, CD, piringan hitam, hingga merchandise musisi-musisi Lampung. Di tengah era streaming, tempat seperti ini terasa penting. Ia bukan sekadar toko. Ia adalah ruang temu. Ruang arsip. Ruang percakapan. Saya pulang membawa dua kaus dan satu CD rilisan lokal. Oleh-oleh terbaik selalu berupa cerita yang bisa diputar ulang.

Tujuan terakhir tentu saja Tanah Lado Fest. Festival yang mempertemukan saya dengan Lampung untuk pertama kalinya meski saat itu saya belum pernah menginjakkan kaki di sini. Festival ini lahir dari lingkungan kampus Institut Teknologi Sumatera, sebuah kampus yang relatif muda, tetapi berhasil melahirkan ruang temu antara seni, film, musik, dan mahasiswa. Bersama Mas Wisnu, kami berbincang tentang bagaimana kampus bisa menjadi laboratorium kebudayaan, tempat anak-anak muda tidak hanya belajar teori, tetapi juga membangun ekosistemnya sendiri. Percakapan itu sebenarnya belum selesai. Namun telepon dari agen bus menandai bahwa saya harus kembali ke Jawa.

Perpisahan selalu menjadi bagian paling sulit dari perjalanan. Teman-teman Lampung mengantar saya sampai ke agen bus. Mereka bergotong royong membawakan oleh-oleh. Melambaikan tangan ketika bus mulai bergerak. Saya hanya bisa membalas dari balik kaca. Kamera Handycam saya terus merekam sampai mereka benar-benar hilang dari pandangan.

Dua hari di Lampung meninggalkan satu pertanyaan yang terus berputar di kepala saya. Mengapa kota-kota di daerah sering memiliki semangat yang begitu besar, tetapi akses yang begitu kecil?

Saya melihat anak-anak muda yang rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan uangnya sendiri untuk menjaga ruang hidup kebudayaan. Saya melihat kolektif yang bergerak tanpa banyak sorotan. Saya melihat festival, record store, warung, hingga ruang nongkrong berubah menjadi simpul-simpul kebudayaan. Dan 
yang mereka butuhkan ternyata bukan sekadar lebih banyak konten.

Hari ini kita hidup di tengah algoritma yang hampir selalu membawa perhatian kita ke pusat-pusat yang sudah besar. Kita disuguhi apa yang sedang ramai, apa yang sedang viral, dan apa yang paling banyak ditonton. Sementara cerita-cerita dari daerah, praktik-praktik kecil yang justru membangun ekosistem, sering kali tidak pernah sampai ke layar kita.

Akibatnya, kita merasa tahu banyak hal, padahal belum tentu memahami apa yang benar-benar dibutuhkan oleh lingkungan kita sendiri.

Dari obrolan dua hari bersama teman-teman di Lampung, saya justru melihat kebutuhan yang lain: pertemuan fisik. Duduk melingkar. Berdiskusi. Bertanya. Mendengarkan pengalaman orang yang lebih dulu berjalan. Bukan untuk memberi jawaban, tetapi untuk membantu membaca kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan yang dimiliki setiap daerah.

Karena ekosistem budaya tidak dibangun oleh algoritma. Ia dibangun oleh kepercayaan. Dan kepercayaan lahir dari perjumpaan.

Mungkin inilah pekerjaan rumah kita bersama. Bukan hanya membuat lebih banyak konten, tetapi memperbanyak ruang temu. Menghubungkan daerah dengan daerah, mempertemukan pelaku dengan pelaku, menghadirkan orang-orang yang bisa saling belajar tanpa merasa paling tahu.

Sebab yang dibutuhkan kebudayaan hari ini bukan sekadar lebih banyak penonton. Melainkan lebih banyak orang yang benar-benar hadir.

Suryodiningratan, 11 Juli 2026





*Catatan Tur Dalam Negeri Pehagengsi luar pulau Jawa untuk pertama kalinya. Tentang Tur Dalam Negeri Pehagengsi bisa kalian intip di www.pehagengsi.blogspot.com

1 comment:

Anonymous said...

Semoga kita bisa berjumpa lagi kak 🙌🏻