Ada sebuah cerita yang tidak akan pernah diceritakan keluargamu.
Bukan karena mereka lupa, bukan pula karena cerita itu terlalu menyeramkan untuk diceritakan kepada anak-anak. Konon, cerita ini memang tidak diwariskan melalui buku pelajaran, tidak disimpan di lemari kaca museum, dan tidak pernah menjadi bagian dari percakapan resmi tentang sejarah negeri ini.
Cerita ini hanya bisa ditemukan di sekitar pesisir.
Ia bersembunyi di antara suara ombak yang memukul tanggul, di dalam percakapan orang-orang yang duduk terlalu lama di warung kopi, di sela-sela bunyi perahu yang pulang menjelang pagi, dan di antara cerita seseorang yang bersumpah pernah melihat sesuatu yang tidak mungkin dilihat orang lain.
Kadang-kadang, cerita itu muncul ketika angin laut membawa bau hujan dari tempat yang jauh. Kadang-kadang, ia datang melalui suara suling yang terdengar dari rumah kosong. Pada malam-malam tertentu, ketika listrik padam dan kampung kehilangan suara televisi, seseorang mungkin mendengar gitar dipetik dari arah yang tidak bisa ditunjuk dengan pasti.
Jika kau bertanya kepada orang-orang tua tentang asal suara itu, sebagian akan tertawa. Sebagian lain akan menyuruhmu pulang sebelum terlalu malam.
Tetapi ada juga yang akan berkata pelan-pelan, seolah-olah sedang membocorkan rahasia yang sudah dijaganya selama puluhan tahun.
“Kalau suatu malam kau mendengar musik dari tempat yang tidak seharusnya ada musik, jangan buru-buru mencari siapa yang memainkannya. Dengarkan dulu. Siapa tahu, kau sedang dipanggil.”
Begitulah cerita tentang Tarling dimulai.
Atau, mungkin, begitulah cerita ini sengaja dibuat seolah-olah dimulai.
Sebab, di pesisir, tidak semua hal memiliki awal yang bisa dipastikan. Laut tidak pernah memberitahukan dari mana ombaknya berasal. Angin tidak membawa kartu identitas. Orang-orang datang dan pergi tanpa selalu meninggalkan nama. Dan sebuah cerita bisa saja sudah hidup selama ratusan tahun sebelum seseorang menemukan kata-kata untuk menceritakannya kembali.
I. Negeri yang Kehilangan Arah
Konon, pada suatu masa yang tidak tercatat dalam kalender mana pun, negeri sedang mengalami kerusakan yang sulit dijelaskan.
Bukan hanya bangunan yang retak, jalan yang berlubang, atau jembatan yang tak kunjung selesai diperbaiki. Yang lebih mengkhawatirkan adalah sesuatu yang perlahan-lahan rusak di antara manusia.
Orang-orang semakin sulit mempercayai satu sama lain. Mereka yang bekerja keras semakin sering merasa tertinggal. Orang-orang kecil diminta bersabar oleh mereka yang tidak pernah harus menghitung uang belanja sampai rupiah terakhir. Setiap hari, ada berita baru yang membuat orang marah, dan setiap malam, ada alasan baru untuk merasa bahwa kemarahan mereka tidak akan mengubah apa-apa.
Di televisi, orang-orang berdebat tentang siapa yang paling benar. Di layar telepon, orang-orang saling menyerang tanpa harus melihat wajah lawannya. Di jalan, mereka yang sedang kesulitan diminta untuk lebih banyak bersyukur. Sementara itu, mereka yang memiliki kuasa sibuk meyakinkan semua orang bahwa keadaan masih terkendali.
Orang-orang pesisir mendengar semua kabar itu.
Mereka mendengarnya sambil membetulkan jaring, mengupas bawang, menunggu pembeli, menambal atap, mengantar anak ke sekolah, atau menghitung penghasilan yang semakin sulit mencukupi kebutuhan keluarga.
Mereka tahu ada yang salah.
Tetapi mengetahui sesuatu yang salah dan memiliki kuasa untuk memperbaikinya adalah dua perkara yang berbeda.
Sebagian orang memilih marah. Sebagian memilih diam. Sebagian berangkat bekerja lebih pagi dan pulang lebih malam, berharap dengan tidak memikirkan keadaan terlalu lama, mereka masih bisa menjalani hidup. Ada pula yang menertawakan semuanya, sebab terkadang tertawa adalah satu-satunya cara untuk tidak menangis di depan orang lain.
Lama-kelamaan, kampung itu dipenuhi manusia yang tampak baik-baik saja.
Mereka masih menyapa tetangga, masih mengantar pesanan, masih menghadiri hajatan, masih mengucapkan selamat pagi. Namun, di balik kebiasaan sehari-hari itu, masing-masing menyimpan sesuatu yang tidak diketahui orang lain.
Ada seorang bapak yang mulai takut membuka tagihan. Ada seorang ibu yang selalu memastikan semua orang sudah makan sebelum dirinya sendiri duduk di meja. Ada seorang anak muda yang berkali-kali mengirim lamaran kerja dan mulai mengira bahwa mungkin dirinya memang tidak cukup baik. Ada sepasang sahabat yang sudah lama tidak berbicara karena sebuah persoalan kecil yang tidak pernah benar-benar diselesaikan. Ada seseorang yang setiap malam membuka teleponnya, menggulir berita buruk, lalu tidur dengan perasaan bahwa dunia sedang menuju tempat yang tidak bisa diperbaiki. Mereka semua hidup berdekatan. Beberapa rumah bahkan hanya terpisah oleh dinding tipis. Anehnya, mereka tidak tahu bahwa mereka sedang mengalami kesedihan yang serupa. Mereka merasa sendirian. Hingga suatu malam, seseorang memainkan gitar.
II. Pertemuan di Antara yang Tampak dan Tidak Tampak
Tidak ada yang benar-benar mengetahui siapa pemain gitar itu.
Ada yang bilang ia seorang pengembara yang datang dari barat, menumpang perahu yang tidak tercatat di pelabuhan. Ada yang mengaku pernah melihatnya bekerja di sebuah pertunjukan keliling. Seorang pedagang tua bersikeras bahwa wajah orang itu mirip seseorang yang pernah ditemuinya puluhan tahun sebelumnya, meskipun ketika ditanya lebih lanjut, ia tidak mampu mengingat kapan dan dimana pertemuan itu berlangsung.
Ada pula cerita yang lebih aneh.
Konon, seorang nelayan melihatnya berjalan di atas air ketika laut sedang surut. Seorang anak kecil mengaku bahwa pemain gitar itu pernah duduk di samping kakeknya, padahal sang kakek sudah meninggal sebelum anak itu lahir. Seorang perempuan yang baru pulang dari luar negeri mengatakan bahwa ia mengenali lagu yang dimainkan orang itu dari sebuah bar kecil di kota yang sangat jauh, meskipun melodinya terdengar seperti sesuatu yang sudah lama hidup di kampungnya sendiri.
Tidak ada satu pun cerita yang bisa dibuktikan.
Tetapi orang-orang pesisir tidak terlalu terganggu oleh ketidakpastian semacam itu.
Mereka terbiasa hidup berdampingan dengan banyak dunia. Dunia yang tampak dan dunia yang hanya bisa dirasakan. Dunia orang-orang yang tinggal di kampung dan dunia orang-orang yang pergi mencari penghidupan ke kota lain. Dunia yang diwariskan nenek moyang dan dunia baru yang masuk melalui kapal, radio, kaset, televisi, internet, serta cerita para perantau.
Bagi mereka, sesuatu yang datang dari jauh tidak selalu asing. Dan sesuatu yang sudah lama tinggal di sekitar mereka belum tentu benar-benar dikenal.
Pada malam itu, pemain gitar tersebut duduk di sebuah halaman terbuka. Tidak ada panggung. Tidak ada pengeras suara. Tidak ada pengumuman bahwa sebuah pertunjukan akan dimulai.
Ia hanya mengeluarkan gitar, memeriksa senarnya, lalu memainkan beberapa nada.
Awalnya, hanya seorang anak yang berhenti bermain untuk mendengarkan.
Kemudian seorang perempuan yang sedang membawa belanjaan memperlambat langkahnya. Seorang lelaki yang sedang memperbaiki sepeda mengangkat kepala. Dua orang yang baru saja bertengkar berhenti saling menyalahkan untuk mencari tahu dari mana suara itu berasal.
Tak lama kemudian, seseorang datang membawa suling.
Ia tidak meminta izin. Ia tidak bertanya siapa yang mengundangnya. Ia hanya duduk di sebelah pemain gitar, mengangkat suling ke bibirnya, lalu meniupkan nada yang seolah-olah sudah lama menunggu untuk bertemu dengan petikan gitar tersebut.
Mereka memainkan sebuah lagu.
Tidak ada yang tahu judulnya.
Sebagian orang menganggapnya lagu lama. Sebagian merasa pernah mendengarnya dalam mimpi. Ada yang yakin lagu itu berasal dari sebuah tempat yang jauh, sementara yang lain bersumpah bahwa melodinya adalah suara kampung mereka sendiri, suara yang selama ini tertutup oleh deru mesin, pengumuman, dan percakapan yang terlalu bising.
Malam semakin larut.
Orang-orang terus berdatangan.
Lalu, tanpa aba-aba, seorang anak mulai berputar mengelilingi kedua pemain musik itu.
Ia tertawa.
Seorang temannya mengikuti.
Kemudian seorang perempuan dewasa ikut melangkah. Seorang bapak bertepuk tangan. Dua orang yang sejak tadi duduk berjauhan mulai mendekat. Seseorang mengajak tetangganya. Orang yang lain mengulurkan tangan kepada seseorang yang bahkan tidak dikenalnya.
Dalam waktu singkat, halaman itu berubah menjadi sebuah lingkaran.
Tidak ada yang memerintahkan mereka untuk bergerak. Tidak ada yang menentukan siapa yang boleh masuk. Lingkaran itu tumbuh sendiri, mengikuti musik, mengikuti tubuh-tubuh yang bergerak, mengikuti sesuatu yang lebih tua daripada keinginan seseorang untuk menjadi pusat perhatian.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, orang-orang yang datang dengan membawa persoalan masing-masing tidak lagi merasa sedang menghadapinya sendirian.
III. Tarling yang Kedua
Keesokan paginya, orang-orang mulai membicarakan kejadian malam sebelumnya.
Mereka bertanya siapa pemain gitar itu, dari mana pemain suling datang, dan mengapa musik yang sederhana bisa membuat orang-orang yang bahkan tidak saling mengenal bergerak bersama-sama.
Sebagian menganggapnya hiburan biasa.
Sebagian lain menyebutnya peristiwa aneh yang tidak perlu dipikirkan terlalu jauh.
Namun, seorang tetua kampung memiliki penjelasan berbeda.
Ia mengatakan bahwa mereka telah menyaksikan dua macam Tarling.
Tarling yang pertama adalah Tarling yang dikenal orang-orang: pertemuan gitar dan suling, bunyi yang tumbuh dari pengalaman hidup masyarakat pesisir, dari kisah cinta, kehilangan, pengkhianatan, kerinduan, dan segala perkara yang membuat manusia menjadi manusia.
Tarling yang kedua tidak berhenti pada alat musik.
Tarling yang kedua terjadi ketika orang-orang mulai berputar dan mengelilingi.
Mereka mengelilingi musik, tetapi sesungguhnya sedang mengelilingi kehidupan mereka sendiri. Mereka bergerak mendekati orang lain, menjauh sejenak, kemudian kembali. Mereka membuat ruang bagi seseorang untuk hadir tanpa harus menjelaskan seluruh penderitaannya.
Menurut tetua itu, ada alasan mengapa lingkaran menjadi begitu penting.
Seseorang yang berdiri sendirian di tengah lapangan mungkin merasa sedang menjadi sasaran semua mata. Seseorang yang duduk di sudut ruangan mungkin merasa tidak memiliki tempat. Tetapi ketika orang-orang membentuk lingkaran, tidak ada satu titik yang sepenuhnya menjadi pusat dan tidak ada satu arah yang menjadi satu-satunya jalan masuk.
Setiap orang bisa melihat orang lain. Setiap orang bisa masuk. Setiap orang bisa keluar dan kembali ketika sudah siap.
Dalam lingkaran itu, orang yang sedang bersedih tidak harus segera bahagia. Orang yang sedang marah tidak harus langsung memaafkan. Orang yang belum sanggup berbicara boleh tetap diam.
Mereka hanya perlu berada di sana.
Tetua itu lalu berkata bahwa sejak malam tersebut, Tarling tidak lagi hanya menjadi nama bagi bunyi yang dihasilkan gitar dan suling.
Tarling telah menjadi kata kerja.
Ia berarti datang ketika seseorang membutuhkan teman.
Ia berarti berputar ketika jalan lurus terasa buntu.
Ia berarti mengelilingi mereka yang sedang kehilangan arah, agar tidak ada yang harus menghadapi kegelapan sendirian.
Ia berarti merayakan kehidupan bukan karena semua masalah sudah selesai, melainkan karena kehidupan masih layak dipertahankan.
Orang-orang mengangguk, meskipun tidak semuanya mengerti.
Beberapa tertawa karena menganggap tetua itu terlalu jauh menafsirkan kejadian sederhana. Beberapa menganggapnya hanya cerita yang dibuat agar anak-anak mau berkumpul dan bermain di luar rumah.
Tetapi ada juga yang mengingatnya.
Terutama mereka yang malam itu datang dengan perasaan kalah, lalu pulang dengan sesuatu yang tidak mampu mereka jelaskan.
Bukan jawaban.
Bukan jalan keluar.
Hanya sedikit tenaga tambahan untuk menjalani hari berikutnya.
Kadang-kadang, ternyata, itu sudah cukup untuk memulai sesuatu.
IV. Lemesin, Jangan Dilawan
Sejak saat itu, ada satu petuah yang terus beredar di sekitar lingkaran Tarling.
Lemesin, jangan dilawan.
Tidak ada yang tahu siapa yang pertama kali mengucapkannya.
Sebagian mengatakan petuah itu berasal dari seorang perempuan tua yang biasa menunggu perahu pulang. Sebagian lain percaya bahwa kalimat itu disampaikan oleh seseorang yang pernah tinggal sangat jauh dari pesisir, lalu kembali setelah menghabiskan sebagian besar hidupnya mencoba melawan dunia dengan cara yang salah.
Apa pun asalnya, kalimat itu tidak pernah dimaksudkan sebagai perintah untuk menyerah.
Sebab, orang-orang pesisir tahu bahwa air yang lembut sekalipun dapat mengikis batu. Mereka tahu bahwa pohon yang lentur bisa bertahan ketika angin kencang datang, sementara sesuatu yang terlalu kaku mungkin patah sebelum badai selesai.
Mereka juga tahu bahwa hidup tidak selalu bisa dihadapi dengan mengepalkan tangan.
Ada saatnya seseorang harus berhenti berteriak agar bisa mendengar apa yang sedang dikatakan orang lain. Ada saatnya seseorang harus mengakui bahwa dirinya lelah. Ada saatnya meminta pertolongan lebih berani daripada berpura-pura sanggup melakukan semuanya sendiri.
Tetapi melenturkan tubuh tidak sama dengan melenturkan pendirian.
Menerima bahwa hari ini terasa berat tidak berarti menerima bahwa keadaan harus selamanya seperti itu. Menahan diri dari pertengkaran yang tidak perlu tidak berarti membiarkan ketidakadilan berlangsung. Memaafkan seseorang tidak selalu berarti memberinya kesempatan untuk menyakiti kita kembali.
Lemesin, jangan dilawan, kata mereka. Lunakkan tubuhmu, supaya kau tidak patah. Lunakkan hatimu, supaya kau masih bisa mendengar penderitaan orang lain. Lunakkan egomu, supaya kau sanggup mengakui kesalahan. Tetapi jangan lunakkan keberanianmu ketika melihat seseorang direndahkan. Jangan lunakkan kepedulianmu ketika orang-orang di sekitarmu membutuhkan bantuan. Jangan lunakkan ingatanmu sampai kau lupa bagaimana keburukan bermula dan siapa yang harus bertanggung jawab.
Ada hal-hal yang tidak perlu dilawan dengan kemarahan.
Ada pula hal-hal yang justru akan terus tumbuh jika tidak pernah dilawan.
Maka orang-orang Tarling belajar membedakan keduanya.
Mereka menari bukan untuk melupakan kesulitan. Mereka menari untuk mengingat bahwa tubuh mereka masih hidup, bahwa orang lain masih berada di dekat mereka, dan bahwa masih ada sesuatu yang bisa dilakukan setelah musik berhenti.
Sebab, ketika seseorang sudah terlalu lama merasa kalah, persoalan terbesarnya kadang bukan lagi seberapa buruk keadaan di luar sana.
Persoalan terbesarnya adalah ketika ia mulai percaya bahwa dirinya tidak lagi mampu melakukan apa-apa.
Di situlah lingkaran Tarling menjadi penting.
Ia tidak menjanjikan bahwa semua orang akan menang.
Ia hanya mengingatkan bahwa seseorang tidak harus kehilangan seluruh keberaniannya hanya karena pernah kalah.
V. Ketika Dunia Jauh Bertemu di Pesisir
Seiring berjalannya waktu, cerita tentang Tarling menyebar ke tempat-tempat yang jauh.
Ada yang membawanya ke kota besar melalui kaset dan siaran radio. Ada yang memperkenalkannya kepada orang-orang yang datang dari luar negeri. Ada pula yang menghubungkannya dengan musik-musik dari berbagai penjuru dunia, dari bunyi gitar yang dimainkan di ruang bawah tanah hingga suara elektronik yang memenuhi panggung festival.
Orang-orang datang membawa alat musik, bahasa, pakaian, cerita, dan cara berpikir yang berbeda.
Seorang pengembara dari negeri yang dingin membawa cerita tentang orang-orang yang berkumpul mengelilingi api ketika malam terlalu panjang.
Seorang pemain musik dari kota yang tidak pernah tidur bercerita tentang pertunjukan tempat penonton melompat bersama-sama, seolah-olah selama beberapa menit mereka ingin membebaskan diri dari segala aturan yang mengikat tubuh mereka.
Seorang pembuat film membawa gambar tentang orang-orang yang tinggal di tempat yang dilanda perang. Seorang penulis membawa kisah tentang seseorang yang tetap menanam bunga meskipun tahu tanah tempatnya tinggal akan segera dirusak.
Mereka semua menemukan sesuatu yang terasa akrab dalam cerita Tarling.
Mungkin karena di mana-mana, manusia memiliki cara untuk menghadapi hal-hal yang terlalu besar bagi dirinya sendiri.
Ada yang menyanyi. Ada yang berdoa. Ada yang menulis. Ada yang berkumpul di jalan. Ada yang membangun dapur umum. Ada yang mengajari anak-anak membaca. Ada yang menjaga tetangganya ketika semua orang lain sibuk menyelamatkan diri.
Bentuknya berbeda-beda, tetapi ada sesuatu yang sama: keinginan untuk mempertahankan kehidupan bersama di tengah keadaan yang membuat orang mudah kehilangan harapan.
Di pesisir, semua perjumpaan itu diterima tanpa harus menghapus asal-usul masing-masing.
Gitar dari tempat yang jauh boleh berbunyi bersama suling dari kampung sendiri. Bunyi elektronik boleh bertemu dengan irama yang diwariskan turun-temurun. Orang-orang boleh datang dengan pengetahuan baru tanpa harus menganggap pengetahuan lama sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman.
Tidak ada yang meminta Tarling menjadi sesuatu yang bukan dirinya.
Sebaliknya, setiap perjumpaan membuatnya menemukan kemungkinan baru.
Sebab, menurut cerita ini, pesisir bukan sekadar garis yang memisahkan daratan dan lautan.
Pesisir adalah tempat pertemuan.
Tempat sesuatu yang datang dari jauh bertemu dengan sesuatu yang telah lama tinggal di sana. Tempat orang-orang yang pergi bertemu dengan mereka yang memilih menetap. Tempat ingatan masa lalu bersinggungan dengan kemungkinan masa depan.
Di tempat seperti itu, yang lokal tidak harus menutup diri dari yang global. Yang tradisional tidak harus memusuhi yang baru. Yang nyata bisa memberi tempat bagi yang tak kasatmata, sementara yang immateriil tetap menemukan bentuknya melalui tubuh, suara, benda, dan tindakan sehari-hari.
Barangkali itulah sebabnya Tarling dalam dongeng ini tidak pernah benar-benar menjadi milik satu orang.
Ia hidup selama masih ada perjumpaan.
Dan ia menghilang ketika orang-orang mulai percaya bahwa mereka tidak lagi membutuhkan satu sama lain.
VI. Hilangnya Lingkaran
Tetapi tidak semua cerita berakhir dengan orang-orang yang hidup bahagia selamanya.
Pada suatu masa, lingkaran Tarling mulai mengecil.
Orang-orang semakin sibuk. Waktu untuk berkumpul harus bersaing dengan pekerjaan, perjalanan, kebutuhan keluarga, dan segala hal yang menuntut perhatian. Banyak orang mengenal musik hanya melalui layar, sementara perjumpaan semakin sering berlangsung dalam bentuk gambar kecil dan kalimat pendek.
Orang-orang masih bisa melihat satu sama lain setiap hari tanpa benar-benar mengetahui keadaan masing-masing.
Mereka mengirimkan tanda suka kepada kabar baik, membagikan kemarahan kepada orang-orang yang sudah sepakat dengan mereka, lalu kembali ke kehidupan masing-masing. Mereka tahu banyak hal yang terjadi di belahan dunia lain, tetapi kadang tidak mengetahui bahwa tetangga sebelah rumah sedang membutuhkan bantuan.
Bukan berarti teknologi adalah musuh. Bukan pula berarti masa lalu selalu lebih baik.
Namun, perlahan-lahan, sebagian orang kehilangan kebiasaan untuk hadir sepenuhnya.
Lingkaran Tarling pun semakin jarang ditemukan.
Gitar dan suling masih dimainkan di berbagai tempat. Lagu-lagunya masih terdengar. Orang-orang masih bisa menyebut nama Tarling, membicarakan sejarahnya, bahkan berdebat tentang bagaimana musik itu seharusnya dimainkan.
Tetapi sesuatu yang lain mulai menghilang.
Keberanian untuk membentuk lingkaran tanpa harus menunggu seseorang mengundang.
Kemauan untuk datang tanpa membawa kepentingan pribadi.
Kesediaan untuk menemani seseorang yang sedang kesulitan meskipun tidak ada keuntungan yang bisa diperoleh.
Dan kemampuan untuk merayakan kehidupan tanpa harus berpura-pura bahwa semua orang di dalamnya baik-baik saja.
Konon, pada saat itulah seorang tetua kembali mengingatkan sebuah ramalan.
Suatu hari nanti, kata tetua itu, hanya akan tersisa satu kelompok yang mengingat bahwa Tarling bukan sekadar bunyi. Mereka mungkin tidak dikenal sebagai pemain terbaik. Mereka mungkin tidak memiliki panggung paling megah atau jumlah penonton terbanyak.
Tetapi selama mereka masih mampu mengajak orang-orang bergerak bersama, selama mereka masih bisa membuat seseorang yang merasa kalah menemukan sedikit keberanian untuk kembali menjalani hidup, ritual itu belum selesai.
Kelompok itu akan menjadi penjaga terakhir.
Bukan karena mereka paling hebat.
Melainkan karena mereka bersedia terus mengingat.
VII. Orkes Tarling The Hendrix: The Last Tarling in the World
Bertahun-tahun kemudian, ketika banyak orang mengira cerita tentang lingkaran Tarling hanyalah dongeng lama, muncul sebuah nama yang terdengar seperti hasil pertemuan beberapa dunia sekaligus.
Orkes Tarling The Hendrix.
Namanya sendiri seperti teka-teki.
Ada sesuatu yang akrab bagi telinga pesisir, tetapi ada pula bayangan bunyi gitar yang datang dari tempat jauh. Ada ingatan tentang musik yang diwariskan, sekaligus kemungkinan bahwa warisan itu bisa dibawa menuju sesuatu yang belum pernah dibayangkan sebelumnya.
Orang-orang mulai membicarakan mereka sebagai The Last Tarling in the World.
Tarling terakhir di dunia.
Tentu saja, tidak ada yang tahu apakah mereka benar-benar kelompok terakhir. Tidak ada yang bisa memastikan bahwa tidak ada orang lain di tempat lain yang masih memainkan gitar dan suling, masih merawat musik pesisir, atau masih membentuk lingkaran bersama orang-orang di sekitarnya.
Mungkin sebutan itu bukan perkara jumlah.
Mungkin the last berarti kesempatan terakhir untuk mengingat sesuatu yang perlahan-lahan kita lupakan.
Kesempatan terakhir untuk bertemu tanpa harus menjadi sama.
Kesempatan terakhir untuk merayakan sesuatu tanpa harus menunggu semuanya sempurna.
Kesempatan terakhir untuk menyadari bahwa meskipun kita tidak bisa mengubah seluruh dunia, kita masih bertanggung jawab terhadap dunia kecil yang berada dalam jangkauan kita.
Dunia yang terdiri dari rumah tempat kita tinggal, orang-orang yang kita temui setiap hari, pekerjaan yang kita lakukan, teman yang kita hubungi, anak yang kita besarkan, pasangan yang kita cintai, dan tetangga yang mungkin selama ini hanya kita sapa sekadarnya.
Dunia kecil itu tidak selalu mudah diperbaiki.
Kadang-kadang, justru di sanalah keburukan paling sulit dilawan.
Ada kebiasaan merendahkan orang lain yang dianggap sebagai candaan. Ada kekuasaan kecil yang membuat seseorang merasa berhak mengatur kehidupan orang lain. Ada ketidakadilan yang dipertahankan hanya karena sudah berlangsung terlalu lama. Ada orang yang terus disakiti karena semua orang di sekitarnya memilih diam.
Tidak semua persoalan itu bisa diselesaikan melalui musik.
Tetapi musik mungkin bisa mengingatkan kita bahwa kita masih memiliki tubuh untuk bergerak, suara untuk berbicara, tangan untuk menolong, dan orang-orang yang bisa diajak berdiri bersama.
Maka, menurut dongeng ini, Orkes Tarling The Hendrix tidak datang untuk menyelamatkan dunia.
Mereka datang untuk memanggil orang-orang yang masih ingin menyelamatkan sesuatu di dalamnya.
VIII. Ritual Hari Ketiga
Pada suatu hari di bulan Oktober, ketika kota dipenuhi suara kendaraan, jadwal pekerjaan, percakapan, dan orang-orang yang sedang mengejar sesuatu, sebuah panggilan akan terdengar dari sebuah panggung di Synchronize Fest.
Konon, pada hari ketiga festival itu, Orkes Tarling The Hendrix akan menggelar ritualnya.
Mereka tidak akan meminta siapa pun meninggalkan seluruh persoalan hidup di luar pintu. Tidak ada jaminan bahwa orang yang datang dengan kesedihan akan pulang tanpa kesedihan. Tidak ada janji bahwa orang yang sedang menghadapi ketidakadilan akan langsung menemukan jalan keluar setelah mendengarkan musik.
Sebab, ritual ini tidak bekerja seperti itu.
Datanglah dengan tubuh yang lelah.
Datanglah dengan kepala yang penuh kabar buruk.
Datanglah dengan amarah yang belum menemukan tempat untuk disampaikan.
Bawalah kegagalan yang belum sanggup kau ceritakan kepada siapapun.
Bawalah pertengkaran yang belum selesai, rasa takut yang terus kau sembunyikan, atau pertanyaan tentang masa depan yang tidak pernah berhasil kau jawab.
Kau tidak perlu berpura-pura kuat.
Kau tidak perlu menjadi orang yang paling tahu bagaimana dunia seharusnya bekerja.
Kau hanya perlu bersedia hadir.
Ketika musik mulai berbunyi, dengarkan gitar dan suling itu. Dengarkan pula segala bunyi lain yang mungkin tumbuh di antara keduanya. Biarkan tubuhmu menemukan gerakannya sendiri. Jika ingin menari, menarilah. Jika ingin bernyanyi, bernyanyilah. Jika hanya ingin berdiri dan menyaksikan orang lain bergerak, itu pun tidak apa-apa.
Lalu, ketika lingkaran mulai terbentuk, ingatlah bahwa orang-orang di sekitarmu bukan sekadar kerumunan.
Mereka adalah manusia yang membawa cerita masing-masing.
Ada yang mungkin sedang merayakan sesuatu. Ada yang mungkin baru saja kehilangan seseorang. Ada yang datang bersama teman-temannya. Ada pula yang datang sendirian, berharap bisa merasakan kembali bagaimana rasanya berada di tengah banyak orang tanpa merasa terasing.
Untuk beberapa saat, kalian berbagi ruang yang sama.
Kalian mendengar bunyi yang sama.
Kalian bergerak dalam waktu yang sama.
Dan mungkin, tanpa perlu mengetahui nama masing-masing, kalian sedang mengingatkan satu sama lain bahwa dunia belum sepenuhnya kehilangan kemungkinan untuk menjadi lebih baik.
Itulah ritualnya.
Bukan sekadar menonton sebuah pertunjukan.
Bukan pula sekedar melarikan diri dari kehidupan sehari-hari.
Melainkan mengumpulkan kembali sesuatu yang tercecer di sepanjang perjalanan: keberanian, kegembiraan, kepedulian, dan tenaga untuk menghadapi hari esok.
Ketika musik berhenti, lingkaran itu akan bubar.
Orang-orang akan kembali ke kendaraan masing-masing. Mereka akan pulang ke rumah, kembali bekerja, membuka telepon, membayar tagihan, menyelesaikan tugas, dan menghadapi persoalan yang sejak awal telah menunggu mereka.
Tidak ada keajaiban yang membuat semua masalah menghilang.
Tetapi barangkali, seseorang akan pulang dengan keberanian untuk meminta maaf kepada temannya.
Seseorang akan memutuskan untuk berhenti membiarkan dirinya terus direndahkan.
Seseorang akan menghubungi orang yang selama ini berjuang sendirian.
Seseorang akan kembali mengerjakan sesuatu yang hampir ditinggalkannya karena terlalu lama merasa gagal.
Dan seseorang, yang selama ini mengira dirinya tidak punya kuasa apa-apa, mungkin akan mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang masih bisa ia ubah di dalam lingkaran hidupnya sendiri.
Mungkin itulah cara sebuah ritual bekerja.
Ia tidak mengubah seluruh dunia dalam satu malam.
Ia mengubah sedikit sesuatu di dalam diri manusia, lalu membiarkan perubahan itu menemukan jalannya sendiri.
IX. Dongeng Ini Belum Selesai
Jika suatu hari nanti kau kembali mendengar gitar dan suling dari tempat yang tidak kau kenal, jangan buru-buru mencari tahu siapa yang memainkannya.
Dengarkan dulu.
Mungkin itu hanya seseorang yang sedang berlatih musik di rumahnya. Mungkin itu suara dari sebuah pertunjukan yang sedang berlangsung di kejauhan. Mungkin pula itu ingatan tentang malam ketika kau pernah berdiri di antara orang-orang yang tidak kau kenal, lalu menyadari bahwa untuk beberapa saat, kau tidak merasa sendirian.
Apa pun itu, ingatlah cerita ini.
Cerita tentang orang-orang pesisir yang menemukan cara untuk menghadapi lara tanpa harus berpura-pura bahagia.
Cerita tentang gitar dan suling yang mempertemukan orang-orang dari dunia yang berbeda.
Cerita tentang lingkaran yang tidak meminta siapapun menjadi sempurna sebelum boleh masuk.
Dan cerita tentang sebuah petuah yang tidak pernah mengajarkan manusia untuk menyerah.
Lemesin, jangan dilawan.
Lunakkan tubuhmu ketika hidup terlalu keras.
Berhenti sejenak ketika kau terlalu lelah.
Terimalah bantuan ketika kau tidak sanggup berjalan sendirian.
Tetapi jangan berhenti menjaga orang-orang yang kau cintai. Jangan berhenti menolak keburukan yang bisa kau ubah. Jangan membiarkan kegagalan meyakinkanmu bahwa kau tidak lagi punya sesuatu yang bisa diperjuangkan.
Sebab, pada akhirnya, mungkin bukan seluruh dunia yang harus kau selamatkan hari ini.
Mungkin cukup satu orang yang kau perlakukan dengan lebih baik.
Satu kebiasaan buruk yang berani kau hentikan.
Satu ketidakadilan yang tidak lagi kau anggap biasa.
Satu percakapan yang akhirnya kau mulai.
Satu lingkaran kecil yang kau jaga agar tetap menjadi tempat orang-orang bisa hadir tanpa harus takut menjadi dirinya sendiri.
Dan jika suatu hari kau merasa lelah lagi, jika kabar buruk kembali datang, jika dunia kembali membuatmu merasa kalah, ingatlah bahwa kau selalu bisa mencari orang-orang yang bersedia berdiri, bernyanyi, dan bergerak bersamamu.
Barangkali mereka berada di rumah sebelah.
Barangkali mereka adalah teman lama yang sudah lama tidak kau hubungi.
Barangkali mereka adalah orang-orang asing yang akan kau temui dalam sebuah perayaan musik.
Atau barangkali, pada hari ketiga Synchronize Fest tahun ini, mereka sedang menunggumu di dalam lingkaran yang akan dibuka oleh Orkes Tarling The Hendrix.
The Last Tarling in the World.
Tarling terakhir di dunia, bukan karena setelahnya tidak akan ada lagi musik yang dimainkan, melainkan karena setiap perjumpaan selalu memberi kita kesempatan untuk memulai kembali.
Maka, datanglah.
Bukan untuk membuktikan bahwa kau tidak pernah kalah.
Datanglah karena kau tahu bahwa kalah bukan berarti selesai.
Datanglah untuk bertemu orang-orang yang tidak kaukenal, untuk merayakan kehidupan yang masih tersisa, dan untuk mengingat bahwa keberanian tidak selalu muncul dalam bentuk perlawanan yang besar.
Kadang-kadang, keberanian dimulai dari tubuh yang kembali bergerak.
Dari tangan yang kembali terulur.
Dari suara yang akhirnya berani mengatakan tidak.
Dari seseorang yang memutuskan untuk tidak lagi membiarkan keburukan tumbuh di dalam lingkaran kecil kehidupannya.
Dan ketika musik berhenti, bawalah pulang apa yang kau peroleh malam itu.
Jangan tinggalkan seluruh keberanianmu di depan panggung.
Bawa ia pulang ke rumah. Bawa ia ke tempat kerja.
Bawa ia ke dalam pertemananmu, hubunganmu, dan lingkungan tempat kau menjalani kehidupan sehari-hari.
Biarkan ia tumbuh menjadi tindakan kecil yang nyata.
Sebab dongeng ini tidak berakhir ketika pertunjukan selesai.
Dongeng ini baru dimulai ketika kita kembali ke dunia nyata.
Orkes Tarling The Hendrix — The Last Tarling in the World.
Ritual hari ketiga Synchronize Fest. Selengkapnya ~> Klik di sini.
DATANG. LAWAN. RAYAKAN.
*"Cerita ini murni merupakan hasil rekaan penulis. Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, latar tempat, waktu, ataupun kejadian dengan dunia nyata, hal tersebut sepenuhnya adalah ingatan-ingatan kebetulan tentang kampung halaman penulis dan tidak bermaksud menyinggung, merugikan, atau menjiplak pihak mana pun."
No comments:
Post a Comment