Showing posts with label Community. Show all posts
Showing posts with label Community. Show all posts

Anomali yang Empatik dan Partisipatif*

Akhirnya ngobrol kepanjangan ama Pak Gram, ketemu juga.

Kemarin petang, gue akhirnya sempat ngobrol langsung dengan Pak Gram (Gilang Ramadhan) di JNM Bloc. Selama ini kami lebih sering berpapasan lewat pekerjaan, saling berbagi foto, atau bertemu di acara. Baru kali ini benar-benar duduk ngobrol. Beliau adalah orang yang bikin gue stop pas baca WA di reply: "Profesi hanya cara, peran adalah kesempatan."


Drawing Hagia N. untuk Pak Gram

Kalimat itu sederhana, tapi semakin dipikir semakin panjang umurnya, ini baru ajayp!!!. Kita sering terlalu suntuk mendefinisikan diri lewat profesi/gawean: desainer, fotografer, dosen, marketer, filmmaker, etc. Padahal yang jauh lebih penting adalah peran apa yang sedang kita jalankan lewat profesi itu.


Di tengah obrolan, Pak Gram menyebut satu istilah yang baru pertama kali gue dengar: bodystorming. Kalau kita akrab dengan brainstorming (mengumpulkan ide lewat diskusi, coretan, atau curah pendapat) maka bodystorming mengajak kita melangkah lebih jauh: keluar dari meja, hadir langsung di lapangan, mengalami persoalannya dengan tubuh kita sendiri. Kalo kata mas Aji Santoso, yg pernah gue sablon: 'sadar penuh hadir utuh.'


Bukan sekadar membayangkan pengalaman pengguna, tetapi benar-benar menjadi bagian dari pengalaman itu. Marketing amat ini ya ternyata...


Ternyata, setelah gue googling, istilah ini memang dikenal dalam dunia desain, terutama design thinking dan human centered design. Banyak praktisi menggunakannya untuk menggambarkan proses menguji ide melalui pengalaman langsung, observasi, simulasi, atau keterlibatan di situasi nyata, semacam test drive. Sederhananya, kalau brainstorming bertanya, "Bagaimana kalau?", maka bodystorming bertanya, "Bagaimana rasanya?"


Mendengar penjelasan itu, gue langsung paham kenapa Pak Gram sering mengajak mahasiswanya keluar kelas. Kadang serombongan juga. Mereka diajak datang ke pameran, festival, studio, bertemu pelaku industri, ngobrol dengan pemilik brand, dan mengenalkan orang-orang yang membentuk ekosistem di balik profesi kreatif. Tujuannya bukan sekadar menambah relasi, tetapi memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mengalami langsung dunia yang sebentar lagi akan mereka masuki. Contoh ini udah gue rasain sendiri, lewat hubungan baik sampai saat ini dengan Dismas dan Tyo. Buat gue, pendekatan ini terasa sangat penting.


Image susulan dari Pak Gram

Industri kreatif berubah terlalu cepat. Sering kali kampus kesulitan mengejar kecepatannya hanya lewat kurikulum. Tapi ketika mahasiswa dipertemukan dengan ekosistemnya secara langsung, mereka belajar sesuatu yang tidak selalu ada di modul: cara berpikir, cara bekerja, cara berkomunikasi, sampai cara menghadapi ketidakpastian. Kerasa banget waktu gue dapat kesempatan ngajar di Komunikasi UMY & UB, hamdallahnya udah mraktekin bodystorming juga ternyata. Hee...


Lucunya, setelah obrolan itu gue baru sadar bahwa beberapa perjalanan yang gue lakukan, dari Bioscil (nganter film pendek anak ke anak-anak) sampe Tur Dalam Negeri Pehagengsi dan yg terakhir ke Lampung & Banyumas (Cilacap & Purwokerto) kemarin buat bikin-bikin talkshow marketing-marketingan, walking tour jaman sekarang, hunting foto kaya jaman kuliah, sampe icip-icip kuliner setempat alih-alih mengunjungi brand lokal, mendengar ceritanya langsung dari para pelakunya ternyata juga merupakan bentuk bodystorming. Bedanya, selama ini gue melakukannya tanpa tahu bahwa pendekatan itu punya nama. Yah, namanya juga sebisanya dengan cara seperti biasanya, sekenanya aja, tp sadar njalaninnya heee.... Buat gue itu cara belajar yang paling membekas.


Karena pengetahuan yang hanya berhenti di kepala mudah terlupakan karena godaan algoritma. Tapi pengetahuan yang dialami tubuh akan berubah menjadi pengalaman. Dan pengalaman hampir selalu bertahan lebih lama daripada teori. Tinggal nge-breakdown jadi metode-nya aja nih yg kadang masih sulit buat gue.


Terima kasih, Pak Gram. Saya belajar banyak dari praktikmu ke mahasiswa. Bukan hanya karena mengenalkan istilah baru, tetapi karena mengingatkan bahwa pendidikan terbaik bukan selalu tentang menambah isi kepala, melainkan memperluas pengalaman hidup mahasiswanya. Kalo ada kesempatan pengen jadi mahasiswa lagi gue.


Trunk Maker Land Purwokerto, 7 Maret 2026



*Judul blog & vlog ini saya nukil dari potongan-potongan chat Pak Gram dipercakapan WA kami kmaren.

Lampung: Menyeberang Pulau, Menjala Api*

Lampung. Satu nama yang sudah lama akrab di kepala saya. Entah kenapa, setiap orang selalu punya asosiasi yang sama ketika menyebut Lampung: begal, gajah, atau PO. Antar Lintas Sumatera yg sering lewat depan rumah. Padahal, bagi saya, Lampung lebih dulu hadir lewat teman-teman yang saya kenal dari dunia musik dan film. Mereka yang membuat saya penasaran: sebenarnya seperti apa tanah di ujung selatan Pulau Sumatra itu? Maka ketika Mas Aryo mengajak ikut ke Lampung untuk menghadiri acara syukurannya, saya tidak berpikir panjang. "Ya!."

Datang, Menonton, Pulang Duluan: Cara Yogyakarta Menjaga Musik Tetap Hidup


Kelar olahraga pagi, refleks pertama seperti biasa: buka timeline. Di sela keringat yang belum sepenuhnya kering, satu info gigs nyempil karena kepincut ada Sakarin dan SKHU Gila. Pas waktunya, pas juga rasa penasarannya. Malam itu saya ngajak Hagia buat nonton Oom Moki (Sakarin), sekalian mengintip band-band yang selama ini cuma lewat di telinga tapi belum pernah saya saksikan langsung: SKHU Gila (Haris, Toyib dkk) dan Japa Mantra (Bable, Lukman dkk).

Semesta cukup baik malam itu. Selain lineup yg saya incer, saya dapat bonus musisi yang

Tidak Ada Kota Kreatif Tanpa Arsip: Pelajaran Penting dari 0231 Calling Cirebon


Ada sensasi tertentu ketika seseorang tiba di kota baru lalu dengan sengaja menyaksikan sebuah momentum besar, momen ketika sebuah kota menghidupkan dirinya lewat kreatifitas anak mudanya. 0231 Calling (30 November 2025, Himas Coffee & Eatery, Cirebon) adalah momen itu bagi saya secara personal setelah hampir enam bulan tinggal di Cirebon.

Sekitar

Catatan dari Ujung Selatan: Membakar Diri Pada Api Semangat Anak Muda Cilacap


Bertemu teman lama dan baru lalu membuat sesuatu di tempat yang asing selalu menjadi hal yang saya sukai. Dalam pekerjaan ini, hal itu terjadi lagi. Semangat yang muncul dari hal-hal kecil dan remeh-temeh sering kali datang tak terduga, tapi disisi lain kita juga tahu bahwa hal itu pasti akan muncul di waktu yang tepat. Catatan ini saya tulis sebagai pengingat pribadi tentang apa yang saya lakukan beberapa minggu lalu di Cilacap, bersama kawan-kawan Cilacap Kreatif dan Kolektif Barokah. Kolektif yang terakhir ini sudah saya kenal sepak terjangnya sejak 2023, ketika kami membuat film untuk Rekam Skena Cherrypop Festival.

Semuanya bermula

Teater, Perlawanan, dan Demo: Apa yang Saya Pelajari dari Monolog Bagus Rangin

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan pengalaman yang cukup berkesan: menonton pertunjukan teater untuk pertama kalinya di Cirebon. Menariknya, pertunjukan ini tidak digelar di ruang pertunjukan konvensional, melainkan di Jatiwangi Art Factory (JaF), sebuah ruang kreatif yang sudah lama saya dengar gaungnya, tetapi baru kali ini saya benar-benar menginjakkan kaki ke sana.


Kesempatan ini datang karena ajakan dari Mas Ozi Sabbit, kawan saya yang saat ini juga sedang

Sebuah Upaya Pulang dan Belajar dari Yogyakarta

Loka Carita, Nasraya, HONF, dan Pindai, sebagian besar nama itu terdengar asing di telinga saya, kecuali HONF yang sejak kuliah sudah saya ikuti dari jauh. Ternyata mereka kini berada di satu lokasi yang sama, dalam sebuah hub bernama Loka Carita, sebuah titik baru di Yogyakarta untuk menampung dan merawat kreativitas kota. Lokasi ini menjadi salah satu titik dari tur pemutaran film yang saya rancang bersama tim untuk pre-event Cherrypop Festival 2025 dengan memutarkan hasil film Rekam Skena (2022-2023) di lima lokasi berbeda di Yogyakarta.

Ngomongin ruang di Yogyakarta memang tidak ada habisnya. Sejak 2008 hingga 2024, saya merasa kota ini