Showing posts with label Cirebon. Show all posts
Showing posts with label Cirebon. Show all posts

10:10 - Ruang, Tempat, dan Liat

Momentum 10.10 hari ini menghadirkan refleksi mendalam buat gue soal gimana manusia berelasi dengan ruang. Tetiba teringat obrolan dengan mas Yoshi Fajar* soal ruang (space) dan tempat (place) memiliki makna yang berbeda namun saling berkelindan.


Gampangannya gini, tempat adalah ruang yang telah diberi makna, identitas, aturan main, serta batas struktural yang jelas seperti gedung bioskop, pusat kebudayaan atau parkiran indomaret yang banyak pesulapnya. Sebaliknya, ruang bersifat lebih cair, organik, dan melekat pada praktik sosial yang dihidupkannya setiap hari dan biasanya menyelinap di tempat-tempat macam di atas.

THE LAST TARLING IN THE WORLD (Dongeng pesisir tentang gitar, suling, dan orang-orang yang menolak kalah)*

Ada sebuah cerita yang tidak akan pernah diceritakan keluargamu.


Bukan karena mereka lupa, bukan pula karena cerita itu terlalu menyeramkan untuk diceritakan kepada anak-anak. Konon, cerita ini memang tidak diwariskan melalui buku pelajaran, tidak disimpan di lemari kaca museum, dan tidak pernah menjadi bagian dari percakapan resmi tentang sejarah negeri ini.


Cerita ini hanya bisa ditemukan di sekitar pesisir.


Ia bersembunyi di antara suara ombak yang memukul tanggul, di dalam percakapan orang-orang yang duduk terlalu lama di warung kopi, di sela-sela bunyi perahu yang pulang menjelang pagi, dan di antara cerita seseorang yang bersumpah pernah melihat sesuatu yang tidak mungkin dilihat orang lain.


Kadang-kadang, cerita itu muncul ketika angin laut membawa bau hujan dari tempat yang jauh. Kadang-kadang, ia datang melalui suara suling yang terdengar dari rumah kosong. Pada malam-malam tertentu, ketika listrik padam dan kampung kehilangan suara televisi, seseorang mungkin mendengar gitar dipetik dari arah yang tidak bisa ditunjuk dengan pasti.


Jika kau bertanya kepada orang-orang tua tentang asal suara itu, sebagian akan tertawa. Sebagian lain akan menyuruhmu pulang sebelum terlalu malam.


Tetapi ada juga yang akan berkata pelan-pelan, seolah-olah sedang membocorkan rahasia yang sudah dijaganya selama puluhan tahun.


“Kalau suatu malam kau mendengar musik dari tempat yang tidak seharusnya ada musik, jangan buru-buru mencari siapa yang memainkannya. Dengarkan dulu. Siapa tahu, kau sedang dipanggil.”


Begitulah cerita tentang Tarling dimulai.

Atau, mungkin, begitulah cerita ini sengaja dibuat seolah-olah dimulai.

Tidak Ada Kota Kreatif Tanpa Arsip: Pelajaran Penting dari 0231 Calling Cirebon


Ada sensasi tertentu ketika seseorang tiba di kota baru lalu dengan sengaja menyaksikan sebuah momentum besar, momen ketika sebuah kota menghidupkan dirinya lewat kreatifitas anak mudanya. 0231 Calling (30 November 2025, Himas Coffee & Eatery, Cirebon) adalah momen itu bagi saya secara personal setelah hampir enam bulan tinggal di Cirebon.

Sekitar

Melawan Tandus di Warung Kopi: Tigapagi dan Cerita Kita

Bagi saya, musik Tigapagi adalah anak tangga. Ia membawa saya pada penjelajahan yang lebih jauh tentang Indonesia, tentang kecemasan yang sering kali kita rasakan. Karya-karya mereka, seperti Roekmana's Repertoire dan Rukiah's Suites, tak hanya memotret kegelisahan, tapi juga menyisakan ruang-ruang untuk perenungan. Dari Roekmana's Repertoire, kami merasakan getirnya kehilangan. Saat melompat ke Rukiah's Suites, getaran itu masih terasa, namun bercampur dengan sepi, perlawanan, dan percik api semangat, sesuatu yang "setidaknya" bisa kita selamatkan di tengah tandusnya harapan.

Tepat pada 1 September 2025, ruang-ruang itu menjadi nyata. Tigapagi tidak hanya

Teater, Perlawanan, dan Demo: Apa yang Saya Pelajari dari Monolog Bagus Rangin

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan pengalaman yang cukup berkesan: menonton pertunjukan teater untuk pertama kalinya di Cirebon. Menariknya, pertunjukan ini tidak digelar di ruang pertunjukan konvensional, melainkan di Jatiwangi Art Factory (JaF), sebuah ruang kreatif yang sudah lama saya dengar gaungnya, tetapi baru kali ini saya benar-benar menginjakkan kaki ke sana.


Kesempatan ini datang karena ajakan dari Mas Ozi Sabbit, kawan saya yang saat ini juga sedang

Sebuah Upaya Pulang dan Belajar dari Yogyakarta

Loka Carita, Nasraya, HONF, dan Pindai, sebagian besar nama itu terdengar asing di telinga saya, kecuali HONF yang sejak kuliah sudah saya ikuti dari jauh. Ternyata mereka kini berada di satu lokasi yang sama, dalam sebuah hub bernama Loka Carita, sebuah titik baru di Yogyakarta untuk menampung dan merawat kreativitas kota. Lokasi ini menjadi salah satu titik dari tur pemutaran film yang saya rancang bersama tim untuk pre-event Cherrypop Festival 2025 dengan memutarkan hasil film Rekam Skena (2022-2023) di lima lokasi berbeda di Yogyakarta.

Ngomongin ruang di Yogyakarta memang tidak ada habisnya. Sejak 2008 hingga 2024, saya merasa kota ini