Showing posts with label Music. Show all posts
Showing posts with label Music. Show all posts

Rekam | Tanya | Arah


Beberapa tahun terakhir, saya melihat ada pergeseran menarik soal arsip terkait musik, video, visual/foto (yang paling dekat dengan saya). Dalam foto/video yang sedang saya gumuli kembali atau film musik di komunitas yang juga saya jalankan sejak bikin Bioskop Musik pada 2019 (ini ngaruh juga pasti, saya sempat 3 tahun kerja di IVAA, hee...). Waktu itu banyak film musik hadir sebagai arsip merekam perjalanan band, komunitas, atau momen penting dalam sebuah skena. Sifatnya cenderung romantik: menyimpan kenangan, merawat ingatan. Tapi sekarang, film musik mulai bergerak lebih jauh. Ia tidak hanya merekam, tapi juga membaca, bahkan

Datang, Menonton, Pulang Duluan: Cara Yogyakarta Menjaga Musik Tetap Hidup


Kelar olahraga pagi, refleks pertama seperti biasa: buka timeline. Di sela keringat yang belum sepenuhnya kering, satu info gigs nyempil karena kepincut ada Sakarin dan SKHU Gila. Pas waktunya, pas juga rasa penasarannya. Malam itu saya ngajak Hagia buat nonton Oom Moki (Sakarin), sekalian mengintip band-band yang selama ini cuma lewat di telinga tapi belum pernah saya saksikan langsung: SKHU Gila (Haris, Toyib dkk) dan Japa Mantra (Bable, Lukman dkk).

Semesta cukup baik malam itu. Selain lineup yg saya incer, saya dapat bonus musisi yang

Melawan Tandus di Warung Kopi: Tigapagi dan Cerita Kita

Bagi saya, musik Tigapagi adalah anak tangga. Ia membawa saya pada penjelajahan yang lebih jauh tentang Indonesia, tentang kecemasan yang sering kali kita rasakan. Karya-karya mereka, seperti Roekmana's Repertoire dan Rukiah's Suites, tak hanya memotret kegelisahan, tapi juga menyisakan ruang-ruang untuk perenungan. Dari Roekmana's Repertoire, kami merasakan getirnya kehilangan. Saat melompat ke Rukiah's Suites, getaran itu masih terasa, namun bercampur dengan sepi, perlawanan, dan percik api semangat, sesuatu yang "setidaknya" bisa kita selamatkan di tengah tandusnya harapan.

Tepat pada 1 September 2025, ruang-ruang itu menjadi nyata. Tigapagi tidak hanya

URUP 2025

 

Bersama Hagia, Dinda, Em, mas Toro, mas Aryo dan semua teman-teman yang sudah berbagi tanya dan cerita di perayaan matahari pertama di tahun ini. Semoga matahari masing-masing dari kita seperti biasanya, tidak lebih dan tidak kurang. Selamat tahun baru teman-teman.

Foto diambil di konser Urup 2025 Kunto Aji,
1 Januari 2025, Asram Edupark Yogyakarta
------------------------------------
Simak foto saya lainnya di sini:

Melancholic Bitch | Limunas XVI | IFI Bandung | 16072022

Dengan senang hati jika teman izin terlebih dahulu atau menyertakan sumber berupa link blog saya jika ingin menggunakan foto-foto dari blog ini. Terima kasih

Pengalaman pertama menggunakan metode virtual photography yg marak di masa pandemi. Hanya bermodal live IG pertunjukan dengan kuota maksimal lalu tekan tombol screencapture. Sungguh teknologi!

abstraksi lipatan waktu melalui matamu

PENTAS LAGI SETELAH 3 TAHUN; Kyai Samudana

Moki, Moh, Rarya

Sebagaimana penampil lainnya, kami juga latihan dong
Yak benar, karena ini semua saya yang motret. Hee...

Perkenalkan, kami Kyai Samudana. Kyai Samudana adalah projek seni yang digagas oleh Prihatmoko Moki ketika diminta pentas di Art Jog tahun 2018 bersama Gunawan Maryanto. Projek ini berangkat dari komik yang dibuatnya, Prajurit Kalah Tanpa Raja. Komik ini dihidupkan menjadi mural, kemudian menjadi pertunjukan. Kyai Samudana adalah orang-orang yang diajak Moki untuk menghidupkan komiknya hingga sekarang. Personilnya siapa aja? Banyak banget dan selalu berubah, dan itu yang membuat hidup karyanya dari hanya sekedar buku komik. Sebelum menjadi Kyai Samudana, sekitar 2018 pentas di Kebun Bibi dengan judul pentas Dongeng Prajurit di pembukaan pameran tunggalnya sekaligus lanching komiknya Moki; Prajurit Kalah Tanpa Raja. Waktu itu, Sandi Kalifadani & Moki sebagai Gemati mengajak mas Gunawan Maryanto untuk membacakannya sementara mereka berdua membuat musik, hadirlah saya sebagai operator slide show dari perlembar komik yang dibacakan mas Gunawan Maryanto. Itu pertama kali, lalu pentas lagi di Teater Garasi, terus ke Kulon Progo, terus ke Pechakucha Jogja, sampe Art Jog dan lebih detailnya kalian bisa mampir ke akun instagramnya aja yak: https://www.instagram.com/kyaisamudana/ 



Ok, sekarang lanjut ke cerita pentas lagi yak. Jadi kami pentas di acara Lelagu. Lelagu sendiri jadi bagian dalam perayaan 100 hari kepergian Gunawan Maryanto (Alm) yang digelar selama kurang lebih satu bulan dengan tajuk "Untuk Seorang yang Demikian Mencintai Hujan" dengan berbagai program seperti pameran seni rupa, pembacaan puisi, pentas teater, podcast, dan konser musik. Nah, saya ikut yang konser (Lelagu) musik bersama Kyai Samudana yang digelar di Teater Garasi.


*Link terkait:

Oh Nina - Fast Song (Ketemu lagi)

Dede, Yudi, Danur, Bim-Bim & Kirun. Teman2 di AFiS yang sering bareng gue waktu itu. Ditugasin mas Rusdi "Bogel" Kurniawan untuk ikutan bikin clip yang akan dikompilasikan bersama dengan maker lainnya. Seneng bukan kepalang, karena gue blm pernah bikin (nge-direct) clip sendiri. Selama ini mesti jadi Astrada. Sikat, mas!


Kira2 waktu itu perasaan gue. Hamdallah, clip yg selama ini hilang ketemua dari sebuah stories yg gue upload ke IG. Kirun, menjawab, "aku nduwe!"




Rawatlah Sinar Sekecil Apapun Itu, Dia Akan Menerangi Perjalananmu (Octo Cornelius & Kikiretake)

Bersama Octo Cornelius dipercaya untuk menyihir pintu masuk semesta 'Nyalang' dari Airportradio untuk album kedua mereka, “Selepas Pendar Nyalang Berbayang” (2018). Ini semacam lanjutan dari album pertama mereka, “Turun Dalam Rupa Cahaya” (2009). Octo mengerjakan instalasi sepatu terbang dengan lilin kemudian saya membuat video mash up dari hasil clip dari seniman kolaborator; Lulu Lutfi Labibi, Lala Bohang, Katia Engel & Faozan Rizal, Ruth Marbun, Bramsky, Terra Bajagrosa, & Wulang Sunu untuk kemudian saya proyeksikan sebagai lapis selimut sebelum kalian benar-benar bisa menerka karya instalasi dari Octo yang magis.


Selain mengerjakan instalasi pintu masuk dan visual jockey (VJ) untuk setiap lagu di pertnjukan langsungnya. Saya juga mengerjakan 3 motion clip (baru dirilis 2, 1 nya masih disimpan, hehehe….) dari seniman kolaborator; Lala Bohang, Ruth Marbun &

SANGKAKALA - DUEL ROCK SHOW - KEDAI KEBUN FORUM - 06052018

Dengan senang hati jika teman-teman izin terlebih dahulu atau menyertakan sumber berupa link blog saya jika ingin menggunakan foto-foto dari blog ini. Terima kasih

SLANK | Lucky Tribe ID | Stadion Kridosono Yogyakarta | 10122017


Dengan senang hati jika teman-teman izin terlebih dahulu atau menyertakan sumber berupa link blog saya jika ingin menggunakan foto-foto dari blog ini. Terima kasih


Bersama Bidadari Penyelamat (BP)
dari Slank Fans Club Minoritas Slankers Jogja (SFC MSJ) semalam.