3 hari bersastra ria di Pekan Kata Warung Sastra. Mulai dari gak sengaja jadi pendengar pas riset lokasi, suntuk bersama 2 tokoh teater yang naskah2nya sering muncul di rak sanggar teater jaman kuliah dulu sampai nemenin anak live drawing meramaikan closing party dengan diiringi para penampil/pembaca puisi yang canggih2.
Trims mas Asef, mas Andre, mbak Deborah, mas Syahdan dan segenap kru yang bertugas di Pekan Kata Warung Sastra 2026 yang satset banget.
Terimalah persembahan rekam diam citra cahaya yang sesempatnya ini (bonus video):
Beberapa waktu lalu saya mendapatkan pengalaman yang cukup berkesan: menonton pertunjukan teater untuk pertama kalinya di Cirebon. Menariknya, pertunjukan ini tidak digelar di ruang pertunjukan konvensional, melainkan di Jatiwangi Art Factory (JaF), sebuah ruang kreatif yang sudah lama saya dengar gaungnya, tetapi baru kali ini saya benar-benar menginjakkan kaki ke sana.
Kesempatan ini datang karena ajakan dari Mas Ozi Sabbit, kawan saya yang saat ini juga sedang
Bersama Hagia, Dinda, Em, mas Toro, mas Aryo dan semua teman-teman yang sudah berbagi tanya dan cerita di perayaan matahari pertama di tahun ini. Semoga matahari masing-masing dari kita seperti biasanya, tidak lebih dan tidak kurang. Selamat tahun baru teman-teman.
Dengan senang hati jika teman izin terlebih dahulu atau menyertakan sumber berupa link blog saya jika ingin menggunakan foto-foto dari blog ini. Terima kasih
Pengalaman pertama menggunakan metode virtual photography yg marak di masa pandemi. Hanya bermodal live IG pertunjukan dengan kuota maksimal lalu tekan tombol screencapture. Sungguh teknologi!
Sebagaimana penampil lainnya, kami juga latihan dong
Yak benar, karena ini semua saya yang motret. Hee...
Perkenalkan, kami Kyai Samudana. Kyai Samudana adalah projek seni yang digagas oleh Prihatmoko Moki ketika diminta pentas di Art Jog tahun 2018 bersama Gunawan Maryanto. Projek ini berangkat dari komik yang dibuatnya, Prajurit Kalah Tanpa Raja. Komik ini dihidupkan menjadi mural, kemudian menjadi pertunjukan. Kyai Samudana adalah orang-orang yang diajak Moki untuk menghidupkan komiknya hingga sekarang. Personilnya siapa aja? Banyak banget dan selalu berubah, dan itu yang membuat hidup karyanya dari hanya sekedar buku komik. Sebelum menjadi Kyai Samudana, sekitar 2018 pentas di Kebun Bibi dengan judul pentas Dongeng Prajurit di pembukaan pameran tunggalnya sekaligus lanching komiknya Moki; Prajurit Kalah Tanpa Raja. Waktu itu, Sandi Kalifadani & Moki sebagai Gemati mengajak mas Gunawan Maryanto untuk membacakannya sementara mereka berdua membuat musik, hadirlah saya sebagai operator slide show dari perlembar komik yang dibacakan mas Gunawan Maryanto. Itu pertama kali, lalu pentas lagi di Teater Garasi, terus ke Kulon Progo, terus ke Pechakucha Jogja, sampe Art Jog dan lebih detailnya kalian bisa mampir ke akun instagramnya aja yak: https://www.instagram.com/kyaisamudana/
Ok, sekarang lanjut ke cerita pentas lagi yak. Jadi kami pentas di acara Lelagu. Lelagu sendiri jadi bagian dalam perayaan 100 hari kepergian Gunawan Maryanto (Alm) yang digelar selama kurang lebih satu bulan dengan tajuk "Untuk Seorang yang Demikian Mencintai Hujan" dengan berbagai program seperti pameran seni rupa, pembacaan puisi, pentas teater, podcast, dan konser musik. Nah, saya ikut yang konser (Lelagu) musik bersama Kyai Samudana yang digelar di Teater Garasi.
Sampai sejauh ini jalannya. Dari komik ke mural, ke pameran, ke performance di ArtJoga. We did it! Rekaman dari IVAA atas pentas kami, Kyai Samudana - Prajurit Kalah Tanpa Raja di ArtJog, 31 Mei 2018 yang lalu. Selamat menonton!
Dengan senang hati jika teman-teman izin terlebih dahulu atau menyertakan sumber berupa link blog saya jika ingin menggunakan foto-foto dari blog ini. Terima kasih
Dengan senang hati jika teman-teman izin terlebih dahulu atau menyertakan sumber berupa link blog saya jika ingin menggunakan foto-foto dari blog ini. Terima kasih
Bersama Bidadari Penyelamat (BP)
dari Slank Fans Club Minoritas Slankers Jogja (SFC MSJ) semalam.
Memproduksi pertunjukan tari kontemporer karya mbak Fitri jadi pengalaman pertama. Sebelumnya saya hanya berada di pertunjukan teater atau sekedar jadi tim produksi sebuah EO. Yang jadi keren adalah karya ini akan dipentaskan di 3 tempat. Pertama di Teater Salihara (22-23 Okt 2016), kedua di Korea (20-21 Mei 2017), dan terakhir di Europalia. Yang terakhir akhirnya gagal. Tapi 2 pertunjukan sebelumnya benar-benar terjadi.
Teaser pertunjukannya:
Foto di atas merupakan sesi pertunjukan di Salihara Jakarta. Saya berperan di tim produksi dari pertunjukan tari kontemporer ini. Mengurus berbagai hal (bagian administrasi), mengkomunikasikan value dari Fitri Setyaningsih melalui website, bagaimana teman-teman dari sebelum pentas, latihan, sampai memastikan barang-barang kembali ke gudang. Dari merapikan website fitridancework.blogspot.com, jadwal latihan di 2 kota, karena mayoritas penari berasal dari ISI Surakarta, dsb
Pada proses untuk ke Korea, saya sampe kursus 2 level di ELTI untuk memperkuat perbendaharaan bahasa. Hee... Karena tugas saya korespondendi dengan pihak Korea secara berkala sampai teman-teman berangkat dan pulang kembali ke Indonesia. Saya tidak ikut ke Korea waktu itu karena ada keperluan keluarga. Hamdallah semua lancar sampai semua kembali ke Indonesia. Pengalaman yang ampuh!
Jalan Emas adalah sebuah pertunjukan kontemporer berbasis musik. Pertunjukan ini berangkat dari kegelisahan atas maraknya bisnis yang mengkomersialkan harapan beserta fenomena irasionalitas yang menyertainya. Harapan dalam hal ini adalah kesuksesan finansial, kemapanan dan sejenisnya. Mulai dari motivator dengan segala jenis dagangannya (buku, seminar, sekolah, umroh, dsb), multi level marketing, bisnis investasi yang menjanjikan kekayaan dengan mudah bahkan hingga sampai pada praktek pesugihan.
Iming-iming kekayaan sering kali dilekatkan dengan ideologi yang ada (agama, norma-norma, etika, dsb) agar orang dapat mudah percaya dan dapat membenarkan segala tindakan atau keputusan mereka. Kenyataannya, segala utopia tentang kemapanan tersebut tidak selalu berakhir indah dan terbukti menuai perkara: investasi bodong, penipuan MLM, penggelapan, dsb.
Kegelisahan kami berlanjut pada asumsi-asumsi yang mengkonstruksi dan dikonstruksi oleh financial dream; Apa yang menggerakkan dan digerakkan oleh bisnis harapan, media, konsumerisme, tuntutan gaya hidup, dan bahkan para caleg dan partai politik peserta Pemilu. Kenyataan ini seperti menghadapkan kita pada terjadinya konversi nilai kesuksesan dan kebahagiaan dengan uang dan materi. Asumsi tersebut dipertegas oleh survey BPS tahun 2013 lalu yang menyebutkan bahwa kebahagiaan orang Indonesia ditentukan oleh kepuasan terhadap pendapatan finansial.
Utopia kesuksesan finansial ini menjadi masalah ketika hasrat untuk meraihnya menggiring kita pada irasionalitas, sebuah kondisi di mana nalar kritis dan hal lainnya dikesampingkan. Bagaimana ia mempengaruhi life value dan nilai-nilai kemanusiaan merupakan satu hal yang patut dipertanyakan.
Hari ini umur saya berulang tahun. Terima kasih semuanya.... Mari menghitung mundur tahunan apa-apa saja yang sudah dan ingin. Dimulai...
2014
Waktu itu saya menawarkan diri kepada GIE untuk menggarap skenografi peluncuran album pertama mereka yang bertajuk Kopi Blues. Tidak ada pertimbangan apapun kecuali karena mereka memainkan musik blues. Beberapa hari kemudian saya menghubungi pihak Teater Tangga, kelompok teater yang membuat saya begitu mencintai pertunjukan, terutama perihal skenografi.