Ada sebuah cerita yang tidak akan pernah diceritakan keluargamu.
Bukan karena mereka lupa, bukan pula karena cerita itu terlalu menyeramkan untuk diceritakan kepada anak-anak. Konon, cerita ini memang tidak diwariskan melalui buku pelajaran, tidak disimpan di lemari kaca museum, dan tidak pernah menjadi bagian dari percakapan resmi tentang sejarah negeri ini.
Cerita ini hanya bisa ditemukan di sekitar pesisir.
Ia bersembunyi di antara suara ombak yang memukul tanggul, di dalam percakapan orang-orang yang duduk terlalu lama di warung kopi, di sela-sela bunyi perahu yang pulang menjelang pagi, dan di antara cerita seseorang yang bersumpah pernah melihat sesuatu yang tidak mungkin dilihat orang lain.
Kadang-kadang, cerita itu muncul ketika angin laut membawa bau hujan dari tempat yang jauh. Kadang-kadang, ia datang melalui suara suling yang terdengar dari rumah kosong. Pada malam-malam tertentu, ketika listrik padam dan kampung kehilangan suara televisi, seseorang mungkin mendengar gitar dipetik dari arah yang tidak bisa ditunjuk dengan pasti.
Jika kau bertanya kepada orang-orang tua tentang asal suara itu, sebagian akan tertawa. Sebagian lain akan menyuruhmu pulang sebelum terlalu malam.
Tetapi ada juga yang akan berkata pelan-pelan, seolah-olah sedang membocorkan rahasia yang sudah dijaganya selama puluhan tahun.
“Kalau suatu malam kau mendengar musik dari tempat yang tidak seharusnya ada musik, jangan buru-buru mencari siapa yang memainkannya. Dengarkan dulu. Siapa tahu, kau sedang dipanggil.”
Begitulah cerita tentang Tarling dimulai.
Atau, mungkin, begitulah cerita ini sengaja dibuat seolah-olah dimulai.
Akhirnya ngobrol kepanjangan ama Pak Gram, ketemu juga.
Kemarin petang, gue akhirnya sempat ngobrol langsung dengan Pak Gram (Gilang Ramadhan) di JNM Bloc. Selama ini kami lebih sering berpapasan lewat pekerjaan, saling berbagi foto, atau bertemu di acara. Baru kali ini benar-benar duduk ngobrol. Beliau adalah orang yang bikin gue stop pas baca WA di reply: "Profesi hanya cara, peran adalah kesempatan."
Drawing Hagia N. untuk Pak Gram
Kalimat itu sederhana, tapi semakin dipikir semakin panjang umurnya, ini baru ajayp!!!. Kita sering terlalu suntuk mendefinisikan diri lewat profesi/gawean: desainer, fotografer, dosen, marketer, filmmaker, etc. Padahal yang jauh lebih penting adalah peran apa yang sedang kita jalankan lewat profesi itu.
Di tengah obrolan, Pak Gram menyebut satu istilah yang baru pertama kali gue dengar: bodystorming. Kalau kita akrab dengan brainstorming (mengumpulkan ide lewat diskusi, coretan, atau curah pendapat) maka bodystorming mengajak kita melangkah lebih jauh: keluar dari meja, hadir langsung di lapangan, mengalami persoalannya dengan tubuh kita sendiri. Kalo kata mas Aji Santoso, yg pernah gue sablon: 'sadar penuh hadir utuh.'
Bukan sekadar membayangkan pengalaman pengguna, tetapi benar-benar menjadi bagian dari pengalaman itu. Marketing amat ini ya ternyata...
Ternyata, setelah gue googling, istilah ini memang dikenal dalam dunia desain, terutama design thinking dan human centered design. Banyak praktisi menggunakannya untuk menggambarkan proses menguji ide melalui pengalaman langsung, observasi, simulasi, atau keterlibatan di situasi nyata, semacam test drive. Sederhananya, kalau brainstorming bertanya, "Bagaimana kalau?", maka bodystorming bertanya, "Bagaimana rasanya?"
Mendengar penjelasan itu, gue langsung paham kenapa Pak Gram sering mengajak mahasiswanya keluar kelas. Kadang serombongan juga. Mereka diajak datang ke pameran, festival, studio, bertemu pelaku industri, ngobrol dengan pemilik brand, dan mengenalkan orang-orang yang membentuk ekosistem di balik profesi kreatif. Tujuannya bukan sekadar menambah relasi, tetapi memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mengalami langsung dunia yang sebentar lagi akan mereka masuki. Contoh ini udah gue rasain sendiri, lewat hubungan baik sampai saat ini dengan Dismas dan Tyo. Buat gue, pendekatan ini terasa sangat penting.
Image susulan dari Pak Gram
Industri kreatif berubah terlalu cepat. Sering kali kampus kesulitan mengejar kecepatannya hanya lewat kurikulum. Tapi ketika mahasiswa dipertemukan dengan ekosistemnya secara langsung, mereka belajar sesuatu yang tidak selalu ada di modul: cara berpikir, cara bekerja, cara berkomunikasi, sampai cara menghadapi ketidakpastian. Kerasa banget waktu gue dapat kesempatan ngajar di Komunikasi UMY & UB, hamdallahnya udah mraktekin bodystorming juga ternyata. Hee...
Lucunya, setelah obrolan itu gue baru sadar bahwa beberapa perjalanan yang gue lakukan, dari Bioscil (nganter film pendek anak ke anak-anak) sampe Tur Dalam Negeri Pehagengsi dan yg terakhir ke Lampung & Banyumas (Cilacap & Purwokerto) kemarin buat bikin-bikin talkshow marketing-marketingan, walking tour jaman sekarang, hunting foto kaya jaman kuliah, sampe icip-icip kuliner setempat alih-alih mengunjungi brand lokal, mendengar ceritanya langsung dari para pelakunya ternyata juga merupakan bentuk bodystorming. Bedanya, selama ini gue melakukannya tanpa tahu bahwa pendekatan itu punya nama. Yah, namanya juga sebisanya dengan cara seperti biasanya, sekenanya aja, tp sadar njalaninnya heee.... Buat gue itu cara belajar yang paling membekas.
Karena pengetahuan yang hanya berhenti di kepala mudah terlupakan karena godaan algoritma. Tapi pengetahuan yang dialami tubuh akan berubah menjadi pengalaman. Dan pengalaman hampir selalu bertahan lebih lama daripada teori. Tinggal nge-breakdown jadi metode-nya aja nih yg kadang masih sulit buat gue.
Terima kasih, Pak Gram. Saya belajar banyak dari praktikmu ke mahasiswa. Bukan hanya karena mengenalkan istilah baru, tetapi karena mengingatkan bahwa pendidikan terbaik bukan selalu tentang menambah isi kepala, melainkan memperluas pengalaman hidup mahasiswanya. Kalo ada kesempatan pengen jadi mahasiswa lagi gue.
Lampung. Satu nama yang sudah lama akrab di kepala saya. Entah kenapa, setiap orang selalu punya asosiasi yang sama ketika menyebut Lampung: begal, gajah, atau PO. Antar Lintas Sumatera yg sering lewat depan rumah. Padahal, bagi saya, Lampung lebih dulu hadir lewat teman-teman yang saya kenal dari dunia musik dan film. Mereka yang membuat saya penasaran: sebenarnya seperti apa tanah di ujung selatan Pulau Sumatra itu? Maka ketika Mas Aryo mengajak ikut ke Lampung untuk menghadiri acara syukurannya, saya tidak berpikir panjang. "Ya!."
Beberapa tahun terakhir, saya melihat ada pergeseran menarik soal arsip terkait musik, video, visual/foto (yang paling dekat dengan saya). Dalam foto/video yang sedang saya gumuli kembali atau film musik di komunitas yang juga saya jalankan sejak bikin Bioskop Musik pada 2019 (ini ngaruh juga pasti, saya sempat 3 tahun kerja di IVAA, hee...). Waktu itu banyak film musik hadir sebagai arsip merekam perjalanan band, komunitas, atau momen penting dalam sebuah skena. Sifatnya cenderung romantik: menyimpan kenangan, merawat ingatan. Tapi sekarang, film musik mulai bergerak lebih jauh. Ia tidak hanya merekam, tapi juga membaca, bahkan
Ada sensasi tertentu ketika seseorang tiba di kota baru lalu dengan sengaja menyaksikan sebuah momentum besar, momen ketika sebuah kota menghidupkan dirinya lewat kreatifitas anak mudanya. 0231 Calling (30 November 2025, Himas Coffee & Eatery, Cirebon) adalah momen itu bagi saya secara personal setelah hampir enam bulan tinggal di Cirebon.
Bertemu teman lama dan baru lalu membuat sesuatu di tempat yang asing selalu menjadi hal yang saya sukai. Dalam pekerjaan ini, hal itu terjadi lagi. Semangat yang muncul dari hal-hal kecil dan remeh-temeh sering kali datang tak terduga, tapi disisi lain kita juga tahu bahwa hal itu pasti akan muncul di waktu yang tepat. Catatan ini saya tulis sebagai pengingat pribadi tentang apa yang saya lakukan beberapa minggu lalu di Cilacap, bersama kawan-kawan Cilacap Kreatif dan Kolektif Barokah. Kolektif yang terakhir ini sudah saya kenal sepak terjangnya sejak 2023, ketika kami membuat film untuk Rekam Skena Cherrypop Festival.
Bagi saya, musik Tigapagi adalah anak tangga. Ia membawa saya pada penjelajahan yang lebih jauh tentang Indonesia, tentang kecemasan yang sering kali kita rasakan. Karya-karya mereka, seperti Roekmana's Repertoire dan Rukiah's Suites, tak hanya memotret kegelisahan, tapi juga menyisakan ruang-ruang untuk perenungan. Dari Roekmana's Repertoire, kami merasakan getirnya kehilangan. Saat melompat ke Rukiah's Suites, getaran itu masih terasa, namun bercampur dengan sepi, perlawanan, dan percik api semangat, sesuatu yang "setidaknya" bisa kita selamatkan di tengah tandusnya harapan.
Tepat pada 1 September 2025, ruang-ruang itu menjadi nyata. Tigapagi tidak hanya
Beberapa waktu lalu saya mendapatkan pengalaman yang cukup berkesan: menonton pertunjukan teater untuk pertama kalinya di Cirebon. Menariknya, pertunjukan ini tidak digelar di ruang pertunjukan konvensional, melainkan di Jatiwangi Art Factory (JaF), sebuah ruang kreatif yang sudah lama saya dengar gaungnya, tetapi baru kali ini saya benar-benar menginjakkan kaki ke sana.
Kesempatan ini datang karena ajakan dari Mas Ozi Sabbit, kawan saya yang saat ini juga sedang
Loka Carita, Nasraya, HONF, dan Pindai, sebagian besar nama itu terdengar asing di telinga saya, kecuali HONF yang sejak kuliah sudah saya ikuti dari jauh. Ternyata mereka kini berada di satu lokasi yang sama, dalam sebuah hub bernama Loka Carita, sebuah titik baru di Yogyakarta untuk menampung dan merawat kreativitas kota. Lokasi ini menjadi salah satu titik dari tur pemutaran film yang saya rancang bersama tim untuk pre-event Cherrypop Festival 2025 dengan memutarkan hasil film Rekam Skena (2022-2023) di lima lokasi berbeda di Yogyakarta.
Ngomongin ruang di Yogyakarta memang tidak ada habisnya. Sejak 2008 hingga 2024, saya merasa kota ini