10:10 - Ruang, Tempat, dan Liat

Momentum 10.10 hari ini menghadirkan refleksi mendalam buat gue soal gimana manusia berelasi dengan ruang. Tetiba teringat obrolan dengan mas Yoshi Fajar* soal ruang (space) dan tempat (place) memiliki makna yang berbeda namun saling berkelindan.


Gampangannya gini, tempat adalah ruang yang telah diberi makna, identitas, aturan main, serta batas struktural yang jelas seperti gedung bioskop, pusat kebudayaan atau parkiran indomaret yang banyak pesulapnya. Sebaliknya, ruang bersifat lebih cair, organik, dan melekat pada praktik sosial yang dihidupkannya setiap hari dan biasanya menyelinap di tempat-tempat macam di atas.


Tempat: Pantura

Kabar bahagia datang dari Cirebon, di mana seorang kawan terpilih untuk pentas di Synchronize Festival Hari ke-3. Ini adalah manifestasi bagaimana sebuah tempat dan kerja kolektif berhasil melahirkan kebudayaan tanding yang merayakan identitas lokal di panggung nasional. Tinggal besok gimana caranya mas Hendrix bisa pentas di Cherrypop Fest 2027, yekan…


Di sisi lain, kabar duka datang dari Lampung, kawan-kawan pegiat kreatif di Metro. Gedung tempat pemutaran film dan diskusi arsip yang baru saja dikunjungi bulan lalu kini harus menghadapi kenyataan pahit: dibongkar secara tiba-tiba. Hilangnya ruang kultural ini menunjukkan betapa rentannya ruang-ruang alternatif di hadapan kuasa struktural dan kapital. Padahal baru kita bahas di Community Corner Cherrypop Fest kemarin. Cherrypop Fest 2027 kalian wajib tampil! Let's go...


Ruang: Semuanya Adalah Titipan

Peristiwa ini mengingatkan kita pada hakikat bahwa tidak ada satupun ruang di bumi ini yang abadi menjadi milik manusia. Ruang/tempat selalu jadi arena negosiasi yang terus-menerus berubah.


“Segala hal di dunia ini bukanlah milik kita, melainkan titipan Sang Pencipta alam semesta. Maka, ketika ia diambil, kita tidak perlu takut atau berputus asa, sebab kita hanyalah pihak yang dipinjamkan.” Kata guru ngaji saya yang belajar dari tukang parkir. Bukan kang parkir Indom*ret lho ya…


Ketika sebuah tempat atau gedung fisik di…. (gak kuat gue nulisnya), esensi dari "meruang" tidak serta-merta mati (haqul yaqin gue). Tugas kita bukanlah sekadar memiliki tembok atau bangunan, melainkan membuat lalu merawatnya (lagi).


Bagi kawan-kawan di Cirebon dan sekitarnya: Mari rayakan panggung Synchronize Festival ini sebagai bukti hidup bahwa kerja-kerja kreatif anak muda daerah mampu menembus batas. Teruslah merawat panggung tersebut.


Bagi kawan-kawan di Lampung: Jangan berkecil hati. Ruang hidup tidak pernah mati selama gagasan tetap menyala. Kita bisa meruang di mana saja, kapan saja, kaya biasanya: di teras rumah, di jalanan, di ruang digital, atau di kantung-kantung kolektif baru yang lebih liat. Kabar2an via WA ya….


Seperti pepatah lama: yang pasti adalah kegagalan, yang konsisten adalah perubahan, dan yang terpenting adalah percobaan.


Piye, guys? Soal strategi kolektif kedepannya agar ruang-ruang alternatif di berbagai daerah bisa lebih mandiri dan terlindungi dari hal-hal menyebalkan gini?



*Catatan ruang dan tempat adalah riset saya ketika membuat karya untuk lokakarya singkat video art di lir space tahun 2016 atas wawancara dengan mas yoshi fajar yang menghasilkan karya video yg berjudul "spaceslap". video art hyperlapse yg memperlihatkan bagaimana sebuah trotoar yg semestinya menjadi tempat pejalan kaki menjadi ruang kuliner di sekitar stadion Mandala Krida Yogyakarta pada jam-jam tertentu, sebagaimana para pejalan menggunakannya juga. Lebih jauh bisa kalian cek di sini: https://rifqimansurmaya.blogspot.com/2016/04/spaceslap.html

No comments: